9 Aug 2014

MENGGANDENG MIMPI

Mula-mula aku berjalan menggandeng mimpi. Saking asyiknya bercerita, aku lupa mengulurinya kesempatan berbicara. Dia mengeratkan jemarinya sehingga tanganku sesak seolah tak ada lagi udara di antara jari kami. Aku menerka-nerka mengapa dia memperlakukanku demikian kasar. Diam-diam aku meliriknya. Dia menatapku tajam kemudian sorot matanya menyuruh penglihatanku beralih memperhatikan jalanan di depan.

Lalu tiba-tiba hujan turun. Di sela jari-jari kami yang rapat berdebat, air menjadi penengah. Aku sekali lagi berkeluh kesah. Suaraku tak mengubah mimpi berpaling memandang mukaku yang kuyup oleh hujan. Dia hanya kembali mengeratkan jemari sehingga air tak bisa memagari jari-jari kami. Telapak tanganku dipukul-pukul denyut nadinya yang marah. Aku teraliri dingin yang tadinya dia simpan sendiri. Wajahnya pucat seperti tak yakin aku bisa mengantarnya pada tempatnya. 

Aku seharusnya menggandeng mimpi yang lain. Mimpi ini terlalu rewel, batinku. Aku bergumam betapa berjasanya aku mengajaknya seiring sementara dia hanya menyamai langkahku saja. Aku bergaya bak pahlawan yang selalu melindunginya padahal aku tidak melakukan apapun selain hanya melangkah lambat melewati mistar waktu sembari sesekali mengomel. Sekarang aku ingin melarikan diri dari genggaman tangannya yang mencekik tanganku. Aku ingin menggandeng mimpi lain yang penurut.

Di angka lain mistar aku melawan gerah yang matahari bagikan. Tangan kiriku sibuk mengipasi tubuh yang banjir keringat. Haruskah aku mengangini mimpi jua? Dia sepertinya sangat kepanasan. Tangan kanannya sibuk menghalau para pejalan lain yang terbirit-birit melaju dan hampir menabrak kami. Apakah aku bergerak terlalu lambat? Aku enggan berkeringat lebih jika aku berlari. Aku gerah karena matahari, mimpi gerah padaku. Jarak kami berangsur-angsur menjauh meski masih bergandengan. Haruskah kami berpisah saat ini juga?

Pada akhirnya aku berjalan di samping mimpi yang sibuk menceramahiku. Dia enggan menggandeng tanganku lagi. Dia menghardikku. Saking asyiknya memaki, dia lupa memberiku kesempatan berbicara.

Mimpi kemudian berbalik arah meninggalkanku. Aku tidak memiliki teman berjalan lagi. Mimpi yang lain juga enggan bersahabat denganku. Seperti bocah kecil yang menolak ditinggal aku merengek. Mimpi berlari begitu cepat dan tak sedikit pun menoleh kembali.

Dia kesal padaku yang terlalu banyak menengok ke kanan-kiri dan berbicara apa saja padahal jalanan masih begitu panjang membentang
--------------------------
image source: speak-your-passion.

No comments :

Post a Comment

Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .