29 Aug 2015

YANGHWA BRIDGE

“I was always alone at home. My dad was a taxi driver. Whenever I asked him where he was, he’d answer: The Yanghwa Bridge.” (Yanghwa Brdg - Zion. T)
Keinginan menulis ini muncul setelah saya membaca ulang diary dan menemukan kata Yanghwa Bridge di catatan tanggal 24 Juli 2015. Sebetulnya saya sudah menyukai lagu itu jauh sebelum saya menuliskannya di diary. Saya ingat perasaan saya teraduk-aduk ketika mendengar lagu ini pertama kali. Perasaan yang sama masih saya temui setiap kali saya mendengar lagu ini kembali. Ah, such a heart-breaking yet comforting song.

21 Aug 2015

730

Aku akan berkelana
Tujuh ratus tiga puluh hari
Maka duduklah sebentar sembari menyesap teh
Tujuh ratus tiga puluh kali
Aku akan kembali

16 Aug 2015

HUTAN MANGROVE

Seminggu yang lalu, Dyan melempar wacana berkunjung ke hutan mangrove di kawasan PIK, Jakarta Utara. Saya tidak tahu persis letak maupun segala detail lain tentang tempat itu tetapi saya mengiyakan begitu saja. Dalam waktu dekat saya akan meninggalkan Jakarta jadi rasanya tidak ada alasan berkata tidak. Akhirnya kemarin pagi kami terpaksa bangun pagi (lebih tepatnya saya sendiri, Dyan selalu gampang bangun pagi) dan bersiap-siap berangkat. Persiapan paling aneh yang kami lakukan adalah memilih beragam bentuk topi untuk keperluan foto. Kami naik transjakarta sampai halte Pluit kemudian disambung dengan mikrolet U11. Kami berkata kepada supirnya minta diturunkan di hutan mangrove. Di sebelah kiri jalan, kami melihat Yayasan Budha yang besar sekali dan megah bernama Tzu Chi. Kami diturunkan di situ dan perjalanan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 10 menit.

6 Aug 2015

ENAM TAHUN (Bagian III)

Aku berhenti terjatuh setelah selama enam tahun terjatuh makin dalam sepanjang waktu.

Aku tidak benar-benar tahu sejak kapan tepatnya aku bisa melepaskan diri dari belenggu yang telah memasungku enam tahun ini. Di masa awal kepindahanku, aku belum jua berhasil membisukan suaramu yang menggaung di sekelilingku. Kini aku terbangun mendengar alunan burung berkicau dan terlelap bersama keheningan. Suaramu menghilang seperti kaset yang telah terlalu lama diputar sehingga rusak. Aku tak lagi perlu mengusirmu yang selalu duduk santai di dalam mimpiku, kau sudah tak lagi di sana. Aku melangkah dengan ringan karena tidak lagi membawa beban perasaan yang menggunung selama bertahun-tahun. Perasaan seperti ini lebih sesuai bagiku ketimbang perasaan cukup berbahagia hanya dengan mengetahui keberadaanmu.

4 Aug 2015

ENAM TAHUN (Bagian II)

Hari yang biru itu adalah hari ini. Detik-detik perpisahan akhirnya menampakkan diri.

Aku tersenyum melepaskan satu persatu orang yang mengantarku. Mataku masih saja refleks mencarimu di antara orang-orang di sekelilingku. Berkali aku memastikan keberadaaanmu barangkali kau baru saja datang. Ketika aku telah memunggungi mereka dalam langkah kepergianku, mataku terasa begitu perih. Hingga detik aku melepaskan pijakanku dari kota ini, bayanganmu sekalipun tak berkelebat. Aku terlampau percaya diri bahwa kau pasti datang. Lebih dari itu, aku terlalu keras kepala untuk tidak mengusir suaramu yang menjadi musik pengiring kehidupanku enam tahun ini.

3 Aug 2015

ENAM TAHUN (Bagian I)

Kau mendengar rencana kepindahanku bukan?

Kini saat aku tidak akan lagi berdiam pada kota yang sama denganmu, aku menyadari betapa lamanya aku berdiam pada hati yang sama. Telah begitu lama aku seolah mendengar tawamu sepanjang waktu. Betul kita berada di kota yang sama tetapi kau tak sedang dekat maupun berucap saat aku terus mendengar suaramu. Aku ingat ketika pertama kali kau tak sengaja membaca namamu di buku catatanku lalu aku terdesak mengakui perasaanku. Kejadian itu masih terasa memalukan bahkan setelah enam tahun berlalu. Aku masih mengingat ketika terakhir kali kita berjumpa dan kau tetap bersikap seolah aku tak pernah berucap apa-apa. Kau tahu perasaanku dan menganggap seolah tidak terjadi apa pun.
Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .