16 Aug 2018

THE QUESTIONS TO JAKARTA

PART 7: CALL IT A DAY

source: pixabay.com

Di tengah perpustakan yang cukup padat siang itu, Bima melangkah menuju meja di sudut ruangan baca. Matanya menangkap sosok yang dicarinya sedang membalik halaman buku seolah tidak terusik dengan derap langkah kaki yang mendekat.

“Tadi Dara di sini cuma sekarang dia lagi ngurusin legalisasi ijazahnya.” Arga menutup buku yang dibacanya begitu menyadari seseorang yang setengah jam yang lalu memintanya tetap berada di perpustakaan kini berdiri di sampingnya.

“She Walks in Beauty...” Bima mengucapkan judul puisi favorit Arga tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Udara di sekeliling mendadak menjadi pekat sampai-sampai Arga merasa sulit bernafas, “...bukan untuk seorang perempuan yang kamu nggak punya perasaan apa-apa kepadanya.” Bima meletakkan DASA Post di tangannya ke meja bersama ponsel yang layarnya menampilkan laman puisi karya Lord Byron itu. “Puisi ini soal Dara kan?”


Lelaki yang ditanya terlihat bimbang sebelum akhirnya mengangguk perlahan. Dia menarik kursi dan memberi kode Bima untuk duduk. Arga menatap telunjuk kanannya mengusap-usap cover buku di hadapannya. Menatap arah mana pun saat ini lebih baik ketimbang harus bertemu pandang dengan sorot mata kecewa seseorang yang duduk di sampingnya itu.

“Wah, perempuan mana yang nggak jatuh sama pesona orang yang nulis puisi buat dia? Kamu bilang nggak punya perasaan apa-apa tapi kamu dateng di akhir buat memenangkan pertandingan dengan puisi ini.” Bima menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gerakan badan yang seolah-olah tidak berjiwa.

“Mas, ada banyak puisi di luar sana yang nggak pernah diketahui oleh orang yang dimaksud dalam puisi itu. Bahkan orang yang dimaksud Lord Byron dalam She Walks in Beauty juga nggak pernah tau puisi ini ditulis buat dia. Dara juga, Mas.” Arga mengetuk-ketukkan sudut buku di tangannya ke meja.

“Tapi aku tahu, Ga.” Mata Bima memerah. “Since you made it clear now I couldn’t be heartless or pretend to be dumb anymore even when I want to win Dara.”

Keduanya hening. Suara gerakan tangan membalik halaman buku saja yang terdengar dari sekeliling mereka. Kedua lelaki itu sama-sama terseret lorong waktu menuju percakapan setahun yang lalu—kepingan puzzle yang menjawab mengapa Bima mengetahui persis makna puisi Arga.

“Perempuan ini secara ajaib bikin hari-hari lebih cerah. Dara itu kaya spring--no no, summer, musim yang dirayakan semua orang. Aneh nggak sih mbandingin seseorang bukan sama musim semi tapi musim panas? But I really celebrate her existence just as she celebrates mine.” Meskipun sudah berkali-kali Arga menanyakan arti Dara baginya, Bima akan selalu menjawab dengan senyuman yang tak putus-putus. Bima tertawa menyadari perumpamaan yang ada di kepalanya itu mungkin terdengar tidak manis sama sekali.

“Nggak aneh kok. Shakespeare di Sonnet 18 juga mbandingin seorang perempuan dengan sebuah hari di musim panas.” Arga menjawab bersama tatapan yang masih sepenuhnya pada baris-baris di buku.

“Bentar coba aku search. Sonnet 18 ya?” Bima mengetik cepat kata kunci yang dimaksud. Senyumnya tidak berhenti berkembang seiring gerakan matanya menyusuri tiap barisnya.

“Then why did you act like she’s a night—something you silently adore from faraway? Mengumpamakan seseorang yang disukai sebagai malam lebih pas buat aku, Mas.” Ibu jari Arga bergerak cepat menyisir halaman-halaman buku berulang-ulang. “Kenapa sampai sekarang Mas Bima nggak pernah bilang apa-apa sama Dara? Kalau dia adalah siang yang benderang, kenapa Mas masih bersembunyi? Just tell her.” Arga melempar senyum yang seharusnya menandakan dukungan.

“Seperti apa perasaanmu pada perempuan yang kamu umpamakan sebagai malam itu?” Bima mengalihkan pembicaraan menyadari senyum Arga tidak bisa benar-benar dikatakan sebagai senyuman.

“Seperti buku-buku yang kubaca.” Arga meletakkan tangannya di atas tumpukan buku di hadapannya.

“Sangat banyak?” Tebak Bima.

“....dan semakin banyak.” Sambung Arga

Bima berhenti tersenyum mendengar jawaban atas pertanyaan yang diharapnya tidak pernah dijawab oleh Arga itu. Bima menyadari seseorang di depannya yang sedari awal perbincangan tidak benar-benar tersenyum kali ini tersenyum. Sejak awal mata seseorang di hadapannya itu tidak turut tersenyum meski berusaha terlihat bahagia tetapi apa yang dilihatnya detik ini adalah mata yang berbinar-binar.

“Perempuan itu pasti senang kalau tahu kamu menceritakannya dengan ekspresi semacam ini.” Bima menepuk bahu Arga kemudian berlalu. Seperti buku-buku yang kamu baca? Bagaimana aku bisa mengalahkan seseorang seperti ini? Langkah Bima keluar perpustakaan terasa berat siang itu.

Bima kembali mendengar suara-suara di sekelilingnya setelah berhenti terseret lorong waktu. Dia mengusap-usap wajahnya seiring selesainya potongan adegan itu di pikirannya. Dipandanginya Arga yang terlihat linglung menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong.

“Arga, kamu tau apa yang lebih penting dari memperjuangkan? MEMBERI KEYAKINAN PADA SESEORANG BAHWA PERJUANGAN KITA BUKAN HAL YANG TEMPORER, ISENG, MAIN-MAIN, ATAU BAHKAN NGGAK SENGAJA. BAHWA MEMPERJUANGKAN SESEORANG ADALAH HAL YANG SERIUS KITA KERJAKAN SETIAP WAKTU, SEPANJANG WAKTU. And you couldn’t do that by doing things silently.” Amarah masih terasa di sana meski volume suara Bima hampir tidak terdengar di tengah kegaduhan yang lirih di perpustakaan.

Bola mata Arga bergerak cepat. Hentakan petir seperti baru saja menyambarnya. Tatapannya belum beralih dari jendela perpustakaan seolah dunia di luar jendela itu lebih menarik. Tatapan nanarnya ke arah luar menggambarkan betapa dia berharap bisa segera keluar dari situasi ini dalam satu kedipan mata.

“I let us compete fairly but you draw yourself even before the game starting. Kamu, Ga, nggak pantes bikin puisi begini sementara kamu nggak punya keinginan ngasih tau Dara.” Arga yang sedari tadi beku menatap lurus ke arah jendela memberanikan diri menatap lelaki yang kini wajahnya penuh kekecewaan.

“But can you take a brief moment to think how if you’re in my position?” Arga akhirnya angkat suara. “Dulu aku mau jujur sama Mas Bima. Tapi Mas Bima bilang kalau aku suka sama Dara, Mas bakal ngalah. Aku bisa aja jujur tapi apa itu adil buat Dara? Laki-laki yang selalu bikin dia tersenyum bahagia akhirnya melihat ke arahnya--apa aku tega memutus kesempatan itu? Lagipula waktu itu aku masih ragu soal perasaanku ke Dara. Aku pikir ini cuma perasaan takut kehilangan sebagai seorang sahabat....”

Keheningan menyelimuti keduanya di antara suara halaman-halaman buku yang dibalik. Deru nafas mereka terdengar berat di tengah ruangan yang tidak terlalu padat itu. Never I saw Arga who always seemed composed and collected being this vulnerable. Bima kehilangan kata-kata melihat Arga kehilangan ekspresi tenang yang selama ini seolah terpatri di wajahnya.

“Aku menyesal nggak memaksa kamu lebih keras lagi buat ngaku, Ga.” Bima berujar lemah. “Sebenarnya aku nggak mau ngalah tapi... mungkin sekarang waktunya aku mundur, Ga. Seberapa banyak pun usahaku nggak akan bisa nggantiin waktu-waktu yang udah Dara lewati sama kamu—terlebih masa tersulit waktu pertama kali pindah Jakarta. Kalau dulu kamu bilang nitip Dara, sekarang aku kembaliin. Nitip Dara ya, Ga.” Bima berbicara perlahan-lahan. Belum pernah Arga melihat Bima tersenyum segetir itu.

“Mas, yang sedari awal dia suka tuh Mas Bima.” Arga terburu-buru menjawab.

Bima menggeleng lemah. Keheningan yang tercipta  di antara mereka berdua terasa canggung di tengah ruangan yang seharusnya memang hening itu.

“Ngobrol doang kok rasanya capek ya.” Arga mendongak ke atas seperti biasanya ketika dia hendak menghalau air mata.

“Iya.” Bima menjawab dengan volume suara hampir tidak terdengar.

Keduanya menghela nafas panjang seolah oksigen di ruangan itu adalah barang langka.  Pundak keduanya seakan memikul beban yang teramat berat. Arga menoleh ke arah Bima. Didapatinya senyum perih dosen etika komunikasi itu belum luntur sedari tadi. Matanya memerah bersama darah yang berkumpul di wajahnya.

“Cepet balik ya, Ga, biar Dara nggak kelamaan nunggu.” Bima beranjak menyadari Arga tidak boleh melihatnya menangis setelah menyerah atas Dara.

Arga menggeleng. “Kamu Mas yang dia tunggu.” Arga menyahut lirih. Air mata berjatuhan membasahi cover buku di hadapannya.
***
Suasana kafe Querido sore itu tidak terlalu ramai pengunjung. Dari dinding kaca, Dara melihat Bima duduk di tempat favorit mereka setiap kali mampir ke sini. Setelah seminggu tidak bersua sebab Bima mengaku sedang sibuk, Dara senang diajak bertemu oleh lelaki kelahiran Jakarta itu. Dara melangkah ringan membuka pintu kafe dan menghampiri pria yang sore lalu berkata ada sesuatu penting yang harus dibicarakan.

“Arga besok berangkat, Dar. Flight tengah malem. Jangan lupa ke bandara ya. Kita ketemu di sana.” Dara yang baru saja duduk disambut oleh obrolan tentang keberangkatan Arga. “Kamu minggu lalu udah ketemu Arga kan pas dia ke kampus?”

Wajah kecewa Dara nampak kesulitan menarik nafas. Ini tujuannya mengajakku bertemu sore ini? Inikah hal penting yang ingin dia katakan? Dara mengeluh dalam hati. Ditatapnya seseorang di hadapannya sembari tersenyum pahit.

“Kayanya aku lupa deh ada yang harus aku kerjain. Aku duluan ya, Mas.” Dara mendorong mundur kursinya, meraih tas, dan melangkah pergi.

“Dar...” Bima melangkah cepat mendahului Dara dan mencegahnya pergi.

“Aku best friend-nya. Udah lupa? Aku lebih tahu jadwal dia daripada kamu, Mas. Di antara semua orang, aku paling tahu soal dia. Kalau kamu mau bahas Arga lagi dan lagi, cari orang lain. Kenapa kamu harus bikin aku kaya orang yang baru kenal dan nggak bakal inget jadwal dia?” Dara berkaca-kaca. “Please stop it.” suaranya memohon.

I’m over it. I’m done with uncertainties. Pada akhirnya aku hanyalah perempuan biasa yang ingin dipastikan masa depannya. Tiba saatnya aku sungguh lelah pada keraguan-keraguan lelaki ini. Dia yang tidak pernah benar-benar memastikan apapun untukku sebab Arga seolah-olah telah menjadi tembok tebal di antara kami—aku menyerah. Dara melangkah melewati Bima dan berjalan keluar. Bima mengikutinya meski Dara bersikap seolah-olah tidak ada seseorang sedang mengejarnya.

“Dara, ini pertama kalinya aku lihat kamu marah. Maaf aku bersikap seolah-olah aku lebih deket sama Arga. Aku salah. Please kamu jangan diem aja. Marahin aku, Dar. Aku dengerin.” Bima berusaha menghentikan langkah Dara dengan menghalangi jalan di depan perempuan yang sedang berjalan cepat itu.

“Bukan itu masalahnya Mas...” Dara menggeleng lemah. Dara menghirup nafas panjang. Keputusan yang hendak dibuatnya membuat air mata menggantung di sudut mata bahkan sebelum terucap.

“Mas Bima, pas aku pulang dan cerita kalau aku merasa nggak dicintai siapa-siapa, Ibuku bilang: obat kekecewaan dan sakit hati itu bukan pulang kampung atau mengurung diri tapi... ikhlas. Ikhlas sama apa-apa yang ditakdirkan.” Dara tidak menatap Bima sama sekali. “Hari itu Mas, aku tahu bahwa aku harus ikhlas sama kehidupan biar nggak gampang patah dan remuk. Supaya aku kuat. Tau apa yang aku ikhlasin hari itu?” Dara menutup mata dengan kedua tangannya agar Bima tidak melihatnya menangis.

Bima menggeleng.

“Sesuatu yang Mas Bima ragukan selama ini.” Dara menarik nafas panjang kesekian kali sebelum melanjutkan pembicaraannya. “Aku ikhlasin Arga hari itu.” Dara masih berbicara dengan mata yang ditutupi kedua tangan. “Jadi aku selalu kecewa setiap Mas Bima bahas Arga lagi dan lagi. Aku bersikap senyaman itu ke Arga karena urusan perasaanku dengannya benar-benar sudah selesai.”

Bima berhenti menghalangi langkah Dara. Dara menurunkan kedua tangannya yang menutupi pandangannya. Keduanya melangkah beriringan bersama Bima yang menunggu kelanjutan ucapan Dara. 

“Kata Ibu, kalau aku ikhlas aku akan dapet ganti yang lebih baik. Dan aku dapet ganti yang lebih baik. Seseorang yang lebih baik dalam membuatku merasa disayangi.”

Ucapan Dara mengingatkan pada momen ketika pertama kalinya Bima yakin bahwa Dara adalah seseorang yang dicarinya. Bima yang kala itu terduduk lemas melihat namanya tidak tercantum dalam pengumuman peserta yang lulus untuk mengikuti short course di Belanda mendengar Dara duduk di sampingnya berujar: “Ikhlas, Mas. Ikhlas. Nanti Mas Bima pasti dapet sesuatu yang lebih baik. Ada banyak hal yang memang sudah ada ketentuannya. Kita nggak perlu nglawan itu, Mas. Tapi nerima. Nerimo.”

Bima tersadar sedari tadi dia berjalan dengan tatapan kosong bersama ingatan masa lalu. Dia merutuki diri yang kerap melamun setelah percakapannya dengan Arga minggu lalu. Dia juga merutuki diri yang membuat Dara terombang-ambing dalam ketidakpastian. Mengapa aku membiarkan perempuan yang selalu menghiburku bahkan saat aku berkata ‘aku baik-baik saja’ ini menunggu selama 2 tahun tanpa kepastian? Dia menoleh ke arah Dara yang sedari tadi seperti mengumpulkan kekuatan untuk berbicara.

“Jadi kalau Mas Bima memang nggak yakin, ya udah. Aku ikhlas. I’ll find someone else in the future. Bantu saja ngikhlasin dengan nggak usah berdiri terlalu dekat lagi.” Dara melangkah ke samping menjauhi Bima. I won’t cry anymore. As I said some years ago, tomorrow I’ll fall in love with someone else.

“Dar...” Dari wajahnya saja terlihat seberapa banyak keterkejutan dalam diri Bima.

“I’m okay. Aku sudah mengikhlaskan Mas Bima. Dulu Mas Bima bilang kalau pengen nemu yang benar-benar pas karena pengen serius. Nggak mau buang-buang waktu buat main-main. Kayanya kamu nggak nemu itu di aku, Mas. Mulai sekarang, kamu nggak perlu buang-buang waktu buat aku, Mas.” Dara tersenyum lega seolah-olah beban menghilang seketika. “Sampai ketemu besok di bandara.” Dara tersenyum sekali lagi kemudian melangkah cepat menghampiri motornya di area parkiran.

Bima terpaku menyaksikan punggung Dara yang bergerak menjauh. Untuk pertama kalinya saat matanya begitu sarat oleh air mata, dia tahu bahwa tidak akan lagi Dara yang berjalan perlahan menghampiri lalu duduk di sampingnya sampai beban di hatinya terkurangi. Apa yang sebenarnya aku inginkan? Mengapa aku masih harus menangisi keputusan yang sudah kutangisi seminggu ini? Bukankah seharusnya aku sudah selesai bersedih atasnya?
***
Di antara lalu lalang orang yang berjalan cepat di bandara, Dara mencari sosok sahabatnya.  Seseorang yang sedari tadi dicarinya melambaikan tangan memanggilnya mendekat. Seseorang yang kemarin diikhlaskannya terlihat sedang mengobrol dengan sahabatnya itu.

“Dar, ini dress yang dulu beli di Yogya bareng aku nggak sih? Ini sneakers yang dulu kamu ngrayu-ngrayu Ibu buat ngebeliin bukan sih?” Arga menyambutnya riang. Bima yang berdiri di hadapan Arga nampak canggung melihat Dara setelah apa yang terjadi kemarin.

Dara mengangguk.

“Wah, memoriku penuh nginget hal-hal beginian ya, Dar. Aku harus ngehapus itu dari otak. Kapasitas otakku nggak sanggup nginget materi kuliah di sana nih kalau kepenuhan.” Arga tertawa pada leluconnya sendiri. Sorry, Dar, I need to bring this topic as a joke even when It’s not.

Bima menatap Arga menanti lelaki itu menatapnya balik. Dia kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Dara yang membisu pada lelucon Arga.

“Becanda, Dar. Katamu aku terlalu serius. Sekarang aku becanda kamu malah yang mukanya serius banget. Nggak lucu ya?” Arga kembali tertawa yang disambut keheningan Dara dan Bima.

“Kalau mau berangkat ke mana-mana, jangan lupa dicek ada yang ketinggal nggak. Ikat rambut misalnya. Ojo nggawe aku khawatir toh, Dar. Saiki kan aku wis ora iso mlayu-mlayu ngeterke bukumu sing ketinggal. But still I’m your best friend.” Arga tertawa lepas meski wajahnya terlihat kusut malam itu.

Dara mendongakkan kepalanya menyadari air telah menggenangi sudut matanya.

“Kamu pergi pas aku belum banyak bantuin kamu. Aku pengen banget Ga, bisa bilang kalimat yang dulu kamu bilang ke aku: aku ingin menjadi seseorang yang membantumu merawat mimpi-mimpimu. Dulu kan kamu ngehibur aku setiap kali homesick. Besok kalau kamu homesick kasih tau aku ya biar aku bisa menghibur.” Air mata yang sedari tadi ditahannya mengalir deras. Dara sesegukan menangis menyadari dirinya belum banyak membantu Arga sebab hubungan mereka yang merenggang.

Dara memalingkan wajahnya ke arah yang tidak terlihat oleh Arga dan Bima. Apakah seseorang tahu beban berat yang harus dipikul hati kita ketika harus melepaskannya?

“Arga, dont you think it’s the perfect time to be honest?” Bima yang sedari tadi membisu akhirnya angkat suara. “You won’t be able to see her for a long time, Ga.” Bima mendesak Arga mengakui perasaannya. Meskipun nampak terkejut dengan ucapan Bima barusan, Arga mengangguk sembari tersenyum.

“Dara, do you know the kind of feeling I have for you?” Arga mengucapkan sesuatu yang membuat hati Bima terguncang bahkan saat dia telah bersiap diri mendengarnya. Dara menoleh ke arah Arga.

“I’m not really sure.” Dara berpikir keras. "It must be something unusual since you asked me. More than just a best friend?” Tebaknya asal.

“No. It’s not more than just a best friend. I couldn’t do more than what I did to you. It’s the same feeling as your best friend but for a lifetime.” Arga tersenyum bersama tatapan yang  kali ini teralih ke Bima. “I have the best feeling for years, I can’t outgrow that.” Arga kembali menatap Dara. “So from now on, please be back to the old Dara who always tells me anything. Let’s be best friends just like before.”

Dara menutup wajahnya sebab air matanya menganak sungai.

Iya Dar, aku memiliki perasaan terbaik. Aku tidak akan bisa melebihi perasaan yang kupunyai sekarang. I'm not lying. Arga mencoba tersenyum.

“Selamat tinggal, Dara.” Mata Arga berkaca-kaca. Arga tertawa lirih guna menghalau kucuran air matanya. Selamat tinggal cinta pertama. Sebelum melangkah menjauh, di pikirannya berkelebat momen ketika pertama kali menyadari perasaannya pada Dara.

“Arga, nggak apa-apa kan?” Dara menghampiri lokasi kecelakaan bersama nafas yang tidak beraturan akibat berlari.

“Kok tau aku kecelakaan?” Arga terkejut.

“Kok kamu nggak cerita sih? Masa aku harus denger dari orang lain.” Dara memukul lengan Arga. Air mata membanjiri wajahnya yang memerah. Hati Arga patah melihat perempuan yang selalu penuh tawa dan canda itu menangis. Why are you crying so miserably, Miss Happy Virus?

“Aku nggak apa-apa, Dar. Aku nggak ngabarin ya memang karena nggak apa-apa. Cuma kecelakaan kecil. Biasa lah.” Arga mencoba bersikap secuek mungkin.

Dara masih tetap menangis.

“Dara, maaf ya bikin kamu khawatir. Aku minta maaf ya udah bikin kamu lari dari fakultas sampai sini. Maaf ya udah bikin kamu nangis.” Suara Arga melunak. Tangan kanannya menepuk-nepuk kepala Dara.

Dara menarik ujung kemejanya untuk membersihkan debu yang masuk dalam luka bekas terjatuh.

“Kemeja kamu nanti kotor, Dar. Kamu kan abis ini kuliah.”

“Kalau kamu nggak bisa berhenti bikin aku khawatir seenggaknya biarin aku nggak khawatir dengan tahu dan ngebantu kamu atas kesulitan-kesulitan.” Dara menghapus air mata dengan lengannya sementara jari-jarinya masih sibuk membersihkan luka.

Seseorang tolong katakan padaku cara agar tidak jatuh hati pada seseorang yang selalu membuat orang-orang di sekelilingnya merasa berharga. Dara, bolehkah aku egois dan mengatakan lupakan saja Mas Bima? Arga tersenyum menatap wajah khawatir perempuan di hadapannya.

“Jangan nangis dong, Dar. Kamu nggak denger ya hatiku retak berserakan?”

Arga berhenti membayangkan masa lalu yang selalu membuatnya tersenyum sekaligus bersedih itu. Ditatapnya Dara yang sebentar lagi akan ditinggalkannya.

“Jangan nangis dong, Dar. Kamu nggak denger ya hatiku retak berserakan?” Bisik Arga mengulangi ucapannya dua tahun lalu. “I really have to go right now. Will you stop crying so my last memory is not your crying face?”

Tangis Dara semakin pecah.

Dara, siapa pun yang melihatmu menangis saat ini tahu bahwa seseorang di hadapanmu itu teramat penting bagimu. Kau menangisi kepergiannya seolah-olah separuh jiwaku pergi bersama kepergiannya. Bima melangkah mundur memberi ruang untuk Arga bersama Dara. 

Melihat air matanya hari ini menjebakku pada perasaan ketika aku pertama kali melihatnya menangis karenaku: perasaan begitu ingin memukuli diri sendiri sebab membuat perempuan ini menangis. Tangan Arga yang semula hendak menghapus air mata Dara berhenti di udara. Dia mengurungkan niatnya itu. Arga dan Bima sama-sama tenggelam dalam kebingungan tentang siapa yang harus menghapus air mata Dara.

But while seeing her crying right now, I don’t think she loves me like what she said before. Bima mendengar suara tangis Dara meski berada cukup jauh di belakang Dara. Perempuan yang diibaratkan sebagai malam oleh Arga, malam ini aku berhenti dari semua kebimbangan. Sayangnya bukan karena aku yakin tetapi karena aku akhirnya menyerah. 

But I gave up already. I shouldn’t wipe her tears while Mas Bima, the one she loves, is here. Arga melangkah mundur menuju terminal keberangkatan internasional di bandara. Jakarta, I call it a day. I will be okay, right?

“Aku pergi dulu ya, Dar.” Arga menatap Dara sekali lagi berharap tatapan mata perempuan ini tidak menjadi pemberat yang menggelayuti langkahnya. Siapa yang menyangka air mata Dara akan melumpuhkan kemampuanku berjalan menjauh.

Dara melambaikan tangan sampai Arga hilang di balik tembok tebal bandara. Dara membalik badannya dan melihat mata Bima yang memerah. Bima tengah mengangguk kecil berkali-kali sebelum akhirnya menemukan kekuatan untuk berbicara.

“Aku pulang dulu ya, Dar. Bye, Dara.”

Dara menatap punggung Bima yang menjauh. Pikiran berteriak menyuruhnya berlari mengejar tetapi kakinya terasa kaku. It’s funny just when I thought I have them all, I barely have one of them. Dara menyeka air matanya. Bergantian ditatapnya arah menghilangnya Arga dan Bima dari pandangannya. After a very tough journey, we finally call it a day. Selamat tinggal harapan. Aku tidak akan mengharapkan siapa-siapa lagi saat ini. So, today, I’ll say farewell to two kindest men I ever met. Dua jam lagi, ketika pergantian hari, aku akan melupakan duka yang saat ini kurasakan, bukan? Selamat tinggal kepada lelaki yang ketika namanya kusebut dalam doa, aku tidak pernah tidak menangis. Seseorang yang setiap menatap sepasang matanya, lirik “I pray to be only yours”1 terdengar di telingaku tanpa pernah kuketahui sumber suaranya, selamat tinggal.

Goodbye, Arga....

Goodbye, Mas Bima...
----
(to be continued)
call it a day: to stop what you are doing because you do not want to do any more or think you have done enought (dictionary.cambridge.org)
1 Lyrics of “Only Hope” by Mandy Moore. “So I lay my head back down and I lift my hands and pray to be only yours.” 

No comments :

Post a Comment

Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .