29 Sep 2018

THE QUESTIONS TO JAKARTA


SPECIAL DARA: DARA’S CHOICE

“Udah jangan sedih. Nanti di Jakarta sering-sering aja nelpon rumah nggih, Mbak Dara.” Arga berbisik kemudian mendorong tas di punggungku perlahan supaya aku melangkah memasuki stasiun. “Pak, Bu, nyuwun doa pangestunipun nggih.” Arga membungkukkan badannya kemudian menyusulku yang berdiri beberapa langkah di depannya. Dia mengambil tiket di tanganku sembari tersenyum menghibur. Diulurkannya dua lembar kertas itu kepada petugas kemudian dia berbalik arah melambaikan tangan kepada orang tua kami yang sama-sama berdiri dengan tatapan sendu. Suasana hatiku bak sebuah desa yang diterjang banjir bandang tetapi tatapan tenang Arga mengubah banjir itu menjadi sungai yang mengalir perlahan mengairi setiap sawah di desa itu. Kau ingin tahu kapan pertama kalinya aku menyadari betapa menyenangkannya berada di samping Arga?

“Mbak Dara, ampun nangis nggih.” Dia meletakkan tasku di tempat bagasi kereta kemudian duduk di sampingku. Tangannya bergerak di kaca jendela menggambar emoticon senyum. Sejak pertama, Arga selalu duduk di dekat jendela setiap kami menaiki kereta sebab dia curiga aku akan menangis diam-diam menghadap ke arah luar.

At least when you sit there, many people can see you crying. Don’t you think it’s embarrassing? So don’t you cry,” suara lirihnya berbicara bahasa Inggris dengan logat yang tetap njawani itu adalah penawar luka yang tanpa kusadari kubutuhkan untuk melewati hari-hari sulit.

Aku mengangguk perlahan sembari mengusap air mata. Dia kemudian membuka buku di tangannya--terlarut dalam halaman-halaman tulisan itu. Sebanyak apapun aku berbicara guna menawarkan kerinduan akan rumah yang mulai menjalar, dia tidak mengalihkan pandangannya dari kumpulan kertas di tangannya. Sesekali dia menatap jendela kaca kemudian kembali menatap bukunya.

“Besok ya, Ga, kita beli perlengkapan kosan. Pokoknya aku nggak boleh sendirian di kosan biar nggak sedih. Setuju kan, Ga?” Yang kutanya tidak menjawab. Kualihkan pandanganku ke samping. Dia tertidur dengan tangan yang masih menggengam buku. Kutatap wajah polos pria yang berkata padaku bahwa tujuannya masuk HI adalah belajar untuk tidak hanya berbicara seperlunya saja itu. Aku tidak akan menyalahkan penulis-penulis yang kerap menggambarkan lelaki yang membaca buku sebagai tokoh utama dalam cerita mereka. Sebab sejak saat itu, Arga yang saat ini terlelap kala membaca buku itu menjelma tokoh utama di dalam ceritaku.
***

Aku belum lama mengenalnya tetapi aku benar-benar berniat memenangkan hatinya. Aku akan membuat kami bertemu seolah-olah secara tidak sengaja meskipun sebenarnya aku merencanakannya matang-matang bersama hati yang tersenyum bahagia. Di hari pertama ospek fakultas, aku sengaja melepas ikat rambutku agar Arga yang belum berangkat dari kosan itu membawakan ikat rambut lainnya untukku.

“Daraaaa...” Suara yang kutunggu akhirnya terdengar. Arga berjalan tergesa-gesa mendekat. Aku berusaha menyembunyikan batin yang tersenyum begitu luas.

Are you always smiling this widely when you left something behind?” Arga menunjukkan ikat rambut di telapak tangannya.

I’m always smiling this widely when I hear you call my name, Arga.

Arga terlihat ragu sebelum akhirnya kedua tangannya memegangi bahuku agar berbalik arah.

“Bisa sendiri kok, Ga.” Aku berusaha berbalik arah kembali tetapi dia memegangi pundakku agar tetap membelakanginya. Dia mengumpulkan rambutku dengan jari-jarinya sebelum mengikatnya.

It couldn’t be he has the same feeling as me, right? Ah, but I don’t feel delighted when he said that his HI classmates are cheerful and smart just as his ideal type.
***

Ada satu hal yang selalu bisa membantuku menyembunyikan perasaanku: mengubah senyum berbunga-bunga karena bersamanya menjadi tawa jahil karena menertawakan Bahasa Inggris medok jawanya itu. 

I’m not even a clown why do you laugh at me all the time?” Protesnya. Tentu saja dengan Bahasa Inggris berlogat jawanya itu.

“Bahasa Inggris kamu.... medok Jogja.” Aku sengaja memedokkan nada bicaraku.

“Perasaan nggak semedok itu sih, Dar.” Protesnya lagi.

Iyaaaa. Tapi apalagi yang bisa kujadikan alasan tertawa girang sepanjang bersamamu selain mengambinghitamkan aksen bahasa Inggrismu itu?

“Aku tahu caranya bikin kamu berhenti baca buku.” Aku mengambil kacamata Arga. Dia menutup buku di tangannya kemudian bersusah payah menatapku tanpa kacamatanya.

“Aku dengerin kok ceritanya. Kamu ternyata masih tergolong pendiem di komunikasi padahal kamu udah merasa banyak ngomong terus kamu jadi pengen belajar public speaking. Itu kan ceritanya?” Telapak tangannya bergerak mendekat menengadah. “Sekarang balikin kacamatanya. Aku mau baca.”

Aku berniat mengembalikan kacamatanya sebelum sebuah suara memanggil Arga dari arah belakangku. Arga yang semula menengadahkan tangannya untuk menerima kacamatanya mendadak mengalihkan pandangannya.

“Clara...” Arga tersenyum dengan mata yang dikedipkannya agar bisa melihat di mana sang pemilik suara berdiri. Aku melihat usahanya untuk bertemu pandang dengan perempuan yang juga reporter Dasa Post itu.

“Udah ngerjain paper Pengantar Ilpol?” Perempuan jenjang itu berjalan mendekat. Pengantar Ilmu Politik adalah salah satu mata kuliah favorit Arga. Tentu saja dia sudah mengerjakannya. Arga mengangguk.

“Oke deh. Cuma mau ngingetin siapa tau kamu lupa. Sampai ketemu di kelas.” Clara mengangguk ke arah Arga kemudian ke arahku sebelum pergi membawa buku yang hendak dipinjamnya ke petugas perpustakaan.

So I guess it’s time to officially give up. Aku mengembalikan kacamata Arga. Dia mengenali Clara padahal aku yakin Arga tidak bisa melihat dengan jelas dari jarak 2 meter benar-benar meleburkan hatiku menjadi debu. Ternyata dia yang kuanggap sungai adalah banjir bandang yang menghanyutkan segenap kekuatanku. Usahanya bertemu pandang dengan Clara, senyum sangat lembut yang dilemparkannya ketika mendengar Clara berbicara—aku semestinya sudah menyerah sedari awal ketika dia berkata teman-teman sekelasnya sungguh menarik.

“Arga, aku pulang duluan ya. Oh ya, besok aku mau ikut aksi damai. Korlapnya senior yang aku suka.” Korlap adalah singkatan dari koordinator lapangan, pemimpin dalam aksi mahasiswa.

Sebenarnya saat itu, aku bahkan tidak memiliki perasaan apapun selain kagum pada Mas Bima tetapi di hari merasa perlu memindahkan hati ini, mungkin cara termudahnya adalah menyebutkan nama selain Arga.

“Semoga seniormu itu melihat ke arahmu ya.” Arga tersenyum sembari membuka bukunya kembali.

“Namanya Sakya Bima Raynar.” Aku mengumpulkan segenap usaha untuk menyebut nama selain namanya.

“Menteri Humas BEM? Ahhhh.... Semangat.” Dia mengangkat kedua tangannya untuk menyemangatiku.

Aku bergegas berlari keluar dari perpustakaan menuju parkiran. Saat ini aku sangat membutuhkan helm-ku untuk menyembunyikan air mata. 
***
Actually, I knew Arga is secretly popular among girls.

“Arga sukanya perempuan yang gimana sih?”

Kalau aku tahu, aku juga ingin berubah menjadi perempuan semacam itu.

“Arga suka kamu ya?”

Haha. Pertanyaan-yang-jelas-jawabannya of the year. Of course no. That’s why my heart is broken.

“Gimana sih caranya biar Arga suka sama aku?”

Seriously, if I knew I’ll use that knowledge exactly now.
***
Matahari sedang terik-teriknya ketika Rina, salah satu teman sekelasku mendadak terlihat pucat dan lemas. Kak Faqih yang saat itu sedang berdiri di dekat kami mengabarkan kondisi temanku ini pada seseorang melalui HT di tangannya. Tak lama berselang, suara langkah tergesa-gesa seseorang mendekat.

“Kalau nggak fit nggak usah ikut aja ya.” Di tengah nafas tersengal-sengalnya dia berujar. “Qih, ajak berteduh. Kalau butuh obat, tadi Recha bawa tas P3K.” sang korlap mengedarkan pandangan mencari seseorang yang baru saja dia sebutkan namanya.

“Almamaternya dicopot aja biar nggak panas.” Pria yang lengan jas almamaternya penuh dengan badge itu itu memberi kode Kak Faqih untuk membantu melepaskan jaket almamater Rina. “Gue harus ke depan, Qih. Nitip ya.” Dia berlalu setelah menepuk bahu Kak Faqih.

Aku menatap ke depan ketika suara seseorang yang baru beberapa menit yang lalu berada di dekatku itu terdengar melalui toa. Tatapan matanya yang tadinya mencemaskan temanku ini kini menyala-nyala. Bagaimana bisa aku menyebut diriku menyukainya sementara aku tidak pernah tahu bagaimana cara melangkah memasuki dunianya yang seolah terpisah dari duniaku itu. Menyukai seseorang yang tidak mungkin melihatku mungkin akan sangat menyulitkan tetapi bukankah ini lebih mudah ketimbang menyukai seseorang yang demikian dekat tetapi sama sulitnya? Kalau sama-sama tidak mungkin, bukankan lebih mudah menyukai seseorang yang bahkan kau tidak pernah bisa dekat dengannya?
***

 “Dar, di perpus kok nggak ngasih tau?”

Arga yang menemukanku di perpus tiba-tiba sudah berdiri di dekatku. Ah, sebenarnya aku belum ingin bertemu dengannya.

“Potong rambut, Dar?” Dia menarik kursi di depanku. Aku mengangguk canggung.

“Kenapa? Perasaan selama SMA rambut kamu panjang terus.” Dia menatap rambut sebahuku.

“Pengen memulai babak baru.” Jawabku lirih.

“Okeeee....” Arga membuka buku di tangannya. “...tapi potong rambut dan memulai babak baru... kedengeran kaya orang patah hati yang mencoba move on.” Nada bicaranya terdengar sangat datar--jika tidak mau disebut meledek.

Yes, you’re right, Ga.

“Dari seniormu itu? Baru aja kemarin bilang tertarik sekarang udah patah hati. Perjuangin dulu lah, Dar.”

Aku tersenyum yang mungkin tampak pahit tetapi untungnya buku yang sedang dibaca Arga menghalangi pandangannya dariku. Perasaanku kepadanya saat ini terasa seperti puisi terkenal miliki Sapardi yang berjudul Hujan Bulan Juni. Aku merahasiakan kesabaran sampai akhirnya aku mengikhlaskan.

“Terus aku denger kamu kemarin pulang Jogja ya? Kok tiba-tiba Dar?”

Aku terkejut mendengar pertanyaannya tersebut. Alasanku pulang tiba-tiba adalah seseorang yang mempertanyakan mengapa aku pulang tiba-tiba.

“karena Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan?” Dia melanjutkan perkataannya sebelum aku sempat menjawab. Aku mengerutkan dahi sebelum akhirnya Arga menyadari kebingunganku. “Puisinya Jokpin.” Dia tersenyum menjelaskan. Jokpin adalah panggilan akrab Joko Pinurbo, salah satu penyair Indonesia favorit Arga.

Aku tersenyum dan membiarkan pertanyaan Arga tidak terjawab. Karena Jogja memuat ibuku yang mengerti bagaimana mengatasi luka yang menganga ini. Sebab Jogja adalah kota di mana aku bisa mendengar ibuku menasihatiku untuk mengikhlaskan perasaan tak berbalas—cinta yang tidak terraih.
***

“You know how much I love you. There’s no need to say it by words.” Suara beratnya terdengar dari seberang sana.

“......and it is a....joke?” Arga sering sekali melemparkan kalimat candaan, lucu ataupun tidak, setelah dia berada di negeri Ratu Elizabeth itu.

“It is. Hahahahaha. But you know I really acted like someone who fell in love with you, right?”

“Hmmmm.” Aku malas menanggapi becandaannya kali ini. “You took care of me very well as a best friend.”

“Of course. Who else have a best friend like me?” Dia tertawa kembali.

Aku tidak menjawab. So, now you love to joke around this much?

“Thank you for letting me know, friend.” Aku menekankan kata terakhir. “How’s your study?”

“Pretty decent. I got a lot of assignments here. Help me out, Dara. Send yourself here to help me.”

“But I want to stay here.” Jawabku memotong suara tawanya. Suara di seberang sana mendadak menghening.

I want to stay here for someone who said he couldn’t help being jealous of the man I'm talking with. I want to be with someone who tried his best to make me sure of his feeling but is unsure about my feeling.
***

Kau ingin tahu kapan pertama kali aku menyadari betapa menenangkannya berada di samping Mas Bima?

“Mas, aku pengen deh kapan-kapan ke Kepulauan Seribu.” Aku berkata serampangan saja begitu melihat paket wisata yang ditawarkan di website yang sedang kubaca.

Mas Bima membuka buku catatan yang selalu dia bawa bersamanya ke mana pun dia pergi. Aku menarik buku tersebut penasaran mengapa dia sering sekali tiba-tiba menuliskan sesuatu di buku tersebut. Dia mencoba mencegahku tetapi buku kecil itu berhasil pindah ke tanganku. Aku melihat banyak sekali catatan-catatan kecil seperti janji bersama teman-temannya, barang yang ingin dibelinya, quote, dan segala macam hal-hal random lainnya termasuk ucapan-ucapan yang hanya iseng saja kuucapkan. That’s how he respects people.

“Biar nggak lupa, Dar.” Dia menjelaskan.

Aku melihat namaku tertulis banyak sekali. Aku ingin membeli buku apa, aku ingin mengunjungi tempat apa, aku ingin mendapat IP berapa semester ini. Aku menahan air mata yang hendak menggerimis dari kedua mata. Sungguh—salah satu perasaan terbaik di dunia ini adalah mengetahui bahwa seseorang diam-diam berusaha mengurusi kita.

Kuulurkan buku itu kembali pada pemiliknya. Aku tidak berani menatap kedua matanya sebab aku sungguh-sungguh telah terjatuh ke dasar jurang pesonanya. Sejak saat itu, aku khawatir jika tatapan kami bertemu, dia akan menggali jurang itu lebih dalam lagi untukku dan tidak akan membiarkanku merangkak keluar.
***

Aku sungguh-sungguh mencintainya—sekalipun berkata bahwa aku tidak bisa memilih untuk memiliki perasaan selain itu kepadanya adalah hal yang tidak masuk akal. Bahkan saat aku bisa mengendalikan perasaanku sepenuhnya, aku masih akan tetap memilih yang sama.

“Bu, Mas Bima, Bu. Sanes Arga.” Dara menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. “Tiyang ingkang kula tresnani.”

“Upami, nduk, upami Mas Arga tresna kalih Dara pripun?”

“Punopo sih Bu. Mas Arga niku saestu mboten wonten napa-napa kalih kula.” Arga? till the end, he’s a very best friend of mine.

“Nggih upami mawon toh. Menawi kalih-kalihe sami-sami seneng kalih Dara, sinten ingkang ajeng dipilih?”

Bagaimana jika Arga menyukaiku? Arga, waktu yang tidak tepat juga adalah takdir.

“Tetep Mas Bima, Bu. Ibu mesthi bingung kok saged kula milih Mas Bima tapi saestu Bu, kula ngraos tentrem kalih Mas Bima.”

“Ngendikane sinten ibu bingung? Ibu lho seneeng weruh Mas Bima.” Ibuku tersenyum. “Ibu cuma ngetes wae.” Ibuku tertawa. Sebenarnya aku juga ingin tertawa seandainya saja keadaanku tidak sedang semenyedihkan ini. Hampir setahun lamanya sejak Arga pergi ke Inggris diiringi Mas Bima yang juga seolah-olah ditelan bumi tetapi aku masih saja bersedih.
***

“Dara, sebelum kamu pulang, ini username dan password blogku. Nanti kamu buka ya.” Ujar Mas Bima sebelum benar-benar berpisah seusai pertemuan kami di studio Dasa Radio.

“Nangisnya udah?” Aku meledeknya. Dia mengangguk sembari tertawa malu. “Oh ya, aku udah baca semua tulisan di blogmu Mas. Buat apa ngasih password?”

“Ada banyak yang belum kamu baca, Dar.” Dia tersenyum seolah memiliki banyak rahasia. “Hati-hati di jalan, Dara.” Mas Bima memasang helmku kemudian mendorong motorku maju. Dia berjalan mundur sembari melambaikan tangan padaku yang sedang mencoba login ke blognya. Ada 14 draft di sana. Dear Dara Part #1 yang ditulis di tanggal kami melakukan bakti sosial--aku masih mengingat tanggal itu sampai Dear Dara #14 yang ditulis seminggu yang lalu. Kali ini gantian aku yang menitikkan air mata. Aku bergegas memacu motorku membelah jalanan Jakarta.

Aku merebahkan diri di kamar. Aku begitu ingin menceritakan kejadian malam ini ke Arga sebelum akhirnya teringat ucapannya dua tahun yang lalu.

“Sebenarnya Dara, aku nggak akan pernah siap akan datangnya hari di mana kamu menikah suatu hari nanti.”

“Kenapa?”

“Kehilangan?” Suaranya seperti kebingungan menjelaskan alasannya. “Atau ada kata yang lebih dari kehilangan?”

“Kalau gitu aku nggak akan ngasih tau kamu. Kamu juga nggak perlu dateng ke acara pernikahanku.” Jawabku tersenyum luas.

Aku pun mengetik pesan kepada Arga.

Ga, hari ini aku liat orang duduk ngebungkuk di perpus. Pengen rasanya narik bahunya.

Tetapi, Ga, siapa sih orang di dunianya yang tidak siap mengetahui sahabat terbaiknya menikah kecuali kamu?

Ah, ada satu lagi. Aku. Aku juga tidak siap mengetahui sahabat terbaikku menikah. Jangan pernah kabari aku soal pernikahanmu. Meski berulang kali kukatakan dengan nada bercanda “Emangnya kamu? Aku sih siap kalau bestfriend-ku nikah” tetapi sejujurnya aku tidak akan pernah siap. Aku akan menjadi orang yang paling terkejut dengan ekspresi tertawa tetapi air mata yang mengalir perlahan. Bukan. Bukan karena aku masih mencintaimu. Tetapi seseorang tidak akan pernah siap menerima kabar pernikahan seseorang yang pernah dicintai sedalam aku mencintaimu.

Ketika dia tersenyum ke arahku Ga, segala kesulitan menjadi tidak berarti lagi. Pemilik senyum yang memiliki kekuatan semacam itu padaku dulu adalah engkau. Tetapi kini bukan. Tentu saja aku tidak akan bisa mendengar kabar pernikahanmu sebab sepasang matamu dulu adalah kekuatanku untuk melangkah.

Jariku memindahkan tampilan di layar ponsel yang semula membuka whatsapp menjadi membuka browser. Aku membaca draft Dear Dara #14 di blog Mas Bima. Tulisan ini adalah tulisan yang dikirimkannya ke Lima Kisah.

Kisah ini tentang seorang perempuan yang memberi kekuatan kepada orang-orang di sekelilingnya. Karenanya aku ingin bekerja lebih keras. Perempuan yang bahkan ketika tidak berbicara apapun, dia memberi kekuatan kepada orang lain untuk tidak menyerah. Bagiku, dia adalah pengecualian dari seluruh isi dunia. Kesedihan akan perpisahan dengan siapapun akan menghilang seiring berjalannya waktu kecuali perpisahan dengannya. Perempuan ini sudah kuanggap keluarga meski dia tidak pernah memintanya. Untuk para perempuan, terima kasih karena sudah menguatkan siapapun di dunia ini.

Aku memeluk ponselku dengan wajah yang menahan tangis dan senyum. Entah ekspresi apa yang sedang ingin menampakkan diri di wajahku saat ini. Aku begitu ingin bertemu kembali dengannya meski belum jua satu jam sejak kami bertemu.
***
“Dara, mau tau kapan aku mulai suka sama kamu?” Mas Bima mengejutkanku ketika tiba-tiba menjemputku sepulang kerja.

“Waktu ketemu di perpus?” Jawabku sembari tersenyum lebar tanpa rasa bersalah menuduhnya telah menyukaiku sejak pertama. “Tapi nggak mungkin juga kan baru kenal udah suka.”

Dia menggeleng. “Bahkan sebelum aku kenal kamu.” Jawabnya yakin. Ah, aku kemudian teringat draft Dear Dara #1 yang belum sempat kubaca semalam. “Kamu, Dar, kapan?”

“Waktu Mas Bima masih nyempetin buat nolongin temenku yang hampir pingsan di aksi damai.”

“Kamu yakin aku nyempetin? Orang aku cuma kebetulan lewat aja.” Dia tertawa.

Kami tertawa bersama. Ternyata kami adalah dua orang yang jatuh cinta bahkan sejak belum saling mengenal. Aaaaaah, sebenarnya sesuatu yang selalu membuatku jatuh cinta padanya adalah kebaikan hati yang dia sembunyikan dari siapapun.

“Topi yang sekarang kamu pakai.....” Dia memperhatikan topi berwarna biru tua di kepalaku kemudian suaranya berhenti di tengah jalan. “Never mind.”

 “Aku inget di awal kita kenal kalau kamu mendoakan seseorang. Aku tahu pasti bukan aku yang kamu doakan tapi mulai sekarang, doakan aku ya, Dar.”  Dia mengalihkan pembicaraan.

Aku menatap kedua matanya yang selalu tampak tenang tetapi jauh dari kesan dingin itu. Aku tidak takut lagi terjatuh lebih dalam jurang pesonanya. Wahai lelaki yang hatinya begitu hangat, bahkan sedari awal aku memutuskan untuk mengikhlaskan Arga, aku hanya mendoakanmu—selalu hanya namamu. Saat aku mengerti bahwa tidak mungkin kau menoleh ke arahku pun, aku masih mendoakanmu. Bahkan sampai sekarang, detik ini pun, aku masih berdoa khawatir tiba-tiba takdir berkata bahwa kita akan terpisahkan. Jangan pisahkan kami, Tuhanku. Mataku berkaca-kaca membayangkan susah payah perjalananku hingga bisa berdiri di sampingnya saat ini. Aku melepas topi di kepalaku kemudian meletakkan di kepalanya. Belum lama ini, Kak Faqih memberi tahu pemilik topi ini sebenarnya. Dia nampak terkejut sebelum akhirnya tersenyum dengan senyum hangat itu.

But girls, instead of looking for the best man, look for someone who treasures us the most. Someone whose eyes sparkling when he sees us. Someone for whom we mean the most for him. Someone who automatically hides his wide smile, afraid of being caught being too in love, when he sees us being happy. Someone who said he looked like an idiot for smiling ear-to-ear whenever he sees us—when actually you feel appreciated. The man who respects you the most. It’s not about finding the best man but a man who treat you the bestReality is not perfect but somehow it’s okay if in the end, you find someone who makes you grateful each and every time you see his pair of eyes—that’s enough.
-------
(But girls, instead of looking for the best man, look for someone who treasures us the most.--Dara)



No comments :

Post a Comment

Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .