11 Jun 2019

MUSE


Part 2: Kamu Pemilik Semua Kisahku
source: pixabay.com
"Dari keinginan yang keras kepala untuk melulu bertemu," jawabku hampir tak terdengar. "Karena aku bisa bertemu denganmu melalui tulisanku. Karena aku tahu, kau membacanya selalu," air mataku kembali menetes.

“Maksudnya?” dia mengedipkan matanya berkali-kali seolah mengimbangi kecepatannya otaknya menerjemahkan maksud kalimatku. Ada kebingungan yang terlukis di wajahnya melihat sepasang aliran di wajahku.

Aku mengusap air mata dengan punggung tanganku. Seolah berkhianat terhadap air mata yang belum kering, aku tersenyum menyadari betapa polosnya hati perempuan ini. Aku mengusir tangis sebab perasaan bahagia berangsur-angsur datang seiring waktu akhirnya menggandeng tanganku. Aku senang bahkan jika harus menghabiskan waktu untuk menjelaskan maksud kalimatku kepadanya tetapi aku memilih tidak melakukannya. Aku ingin memiliki tatapan penasaran perempuan ini selamanya jadi aku tak akan merasa jemu untuk ditatapnya demikian.


“'Kenapa kamu nggak pernah datang lagi ke Gramedia Matraman?', 'Kenapa kamu nggak pernah datang ke bedah buku saya di Jakarta?', 'Apa kamu sudah berhenti menjadi pembaca tulisan saya?' Saya terbunuh pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu, saya menulis untuk mengatasi rindu dan berasumsi lewat tulisan, saya berbicara denganmu,” bisikku dalam hati. Aku tak mengutarakannya meski tatapannya seolah hendak merubuhkan pertahananku untuk tidak menyingkap terlalu banyak rahasia.

Menyadari aku tak kunjung menjawab, dia berhenti menatapku penasaran. “Anyway, terima kasih masih mengingat saya di antara penggemar lainnya,” ucapnya dengan aksen jawa yang tidak sepenuhnya samar meski dia mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Indonesia.

Aku berpaling ke arah di mana wajahku tidak terbaca olehnya. Mengingatmu tidak memerlukan usaha.

“Selama ini kamu ke mana aja? Saya mencarimu,” ujarku sembari tersenyum. Aku tidak bisa menghentikan senyuman ini begitu saja.

“Nggak lama setelah kita ketemu di Gramed itu, saya dimutasi ke sini. Waktu itu kan Mas Ikra belum seterkenal sekarang buat diundang bedah buku ke banyak kota jadi kita baru bisa ketemu lagi sekarang,” terangnya.

Pasti saat ini pipiku memerah karena terlalu lama tersenyum. Ini gila. Bahkan mendengarnya berbicara apapun membuatku tersenyum.

“Saya terus mencarimu,” ucapku menekankan maksud kata ‘mencari’ yang kumaksud. Aku menatap lurus matanya yang cokelat itu. Aku masih mengingat betul detail warna bola mata satu ini. Dia menurunkan buku di dekapannya seolah mengabarkan ketidakpercayaannya pada ucapanku barusan. Aku meraih buku di tangan kanannya itu kemudian menuliskan sesuatu di halaman pertamanya.

“Saya ada jadwal lagi setelah ini. Boleh nanti kita ketemu lagi? Di Simpang Lima jam 8 malam mungkin? Boleh minta nomor hp kamu?”

Dia menggeleng. Sebuah gelengan yang biasa saja tetapi membuatku jantungku melompat. Saat dia mengangguk, matanya berkilauan. Saat dia menggeleng, matanya bersinar redup. Bolehkan kuminta semua anggukan dan gelengan perempuan ini untukku saja?

“Mas, kamu belum sadar ya kalau sekarang kamu terkenal? Jangan main di tempat umum begitu. Kamu juga punya pacar. Ngak sadar ya gosip macam apa yang bakal muncul nantinya?”

“Nanti saya jelasin. Saya pakai masker sama topi deh biar nggak dikenali orang-orang. Okay?” aku membujuknya.

“Kenapa Mas masih perlu ketemu saya lagi?” dia memasang ekspresi yang seharusnya tidak ada di dunia ini: ekspresi kamu-harus-menjawab-pertanyaanku-dengan-jujur.

“Karena kamu pemilik semua kisahku,” aku menyebutkan judul salah satu cerpen di buku terbaruku, ‘Kamu Pemilik Semua Kisahku’.

“Saya nggak paham. Jangan bikin saya salah paham,” kali ini aku yakin dia memahami maksudku tetapi tetap tak berani melompat pagar yang dia buat sendiri.

“Kamu nggak salah paham, Kyr,” jawabku sembari berlalu. “Okay, kalau kamu nanti malam nggak dateng, bukunya nggak saya balikin,” aku menggenggam buku di tanganku erat. Aku melambaikan buku yang  ada di tanganku seperti kala dia melambaikan buku di tangannya dua tahun lalu. Lambaian buku waktu itu boleh saja berarti ‘kita tidak akan bertemu lagi’ tetapi lambaian kali ini mungkin berarti ‘kita akan bertemu lagi’.
***

“Mas Ikra,” suara yang kutunggu akhirnya datang menyapa. “Kamu nggak tahu ya kalau Simpang Lima itu luas bangeeeeeet. Saya muterin setengah lapangan ini baru ketemu,” dia menghampiriku yang duduk di kursi yang berada di trotoar tepi lapangan.

Sorry. Saya juga baru sadar kalau kamu nggak mau ngasih nomor hp jadi saya nggak bisa ngasih tahu posisi saya di mana,” aku membenarkan posisi topiku.

“Mana buku saya?” dia menengadahkan tangannya.

“Kamu ke sini bukan cuma karena buku ini kan?” Aku mengambil buku di tasku kemudian menyerahkannya kepada pemiliknya. “Jangan buka dulu ya. Nanti aja,” aku mencegah gerak tangannya yang hendak membuka halaman pertama buku itu. Dia menurut.

“Mas Ikra pulang kapan?” dia berujar sembari memasukkan buku ke tasnya.

“Kereta besok pagi. Kenapa, Kyr? Mau nganter ke stasiun?” aku meledeknya.

“Yeeee... Besok pagi saya kerja. Lagian kan perginya sama manajer. Nanti pasti dia mikir saya siapa kok tiba-tiba muncul di stasiun. Ntar manajermu bilang ‘Pasti fans alay nih’,” dia tertawa menyadari dia gagal menirukan suara laki-laki. Aku ikut tertawa karena membayangkan bagaimana aku akan memperkenalkan perempuan yang duduk di sampingku ini kepada Mas Beni, manajerku. Ini Kyra, perempuan yang melompat keluar dari tulisan-tulisanku. Bukan. Perempuan yang melompat ke dalam tulisan-tulisanku.

“Ngomong-ngomong soal kereta, dulu, bapak saya suka membawa saya ke stasiun buat menonton kereta lewat. Hiburan saya pas kecil receh banget ya,” aku tertawa. “Nggak taunya pas gede saya jadi sering naik kereta terus saya senyum-senyum sendiri kalau liat orang-orang nonton kereta yang saya tumpangi sebagai hiburan sore buat mereka,”

“Itu inspirasi tulisan ‘Kereta’ di buku barunya Mas ya? ‘Dulu aku mengejar kereta sebagai hiburan masa kecil. Aku tertawa. Kini aku mengejar kereta karena agenda. Aku terengah-engah.’,” dia melafalkan cerpenku dengan cara yang sama seperti dua tahun yang lalu. Apakah dia menghafal setiap kalimat di bukuku?

“Saya baca bukumu berkali-kali, Mas. Itu kenapa saya hafal. I’m such a fan. Jangan ragukan kerja keras seorang penggemar buat idolanya. Idola kaya Mas Ikra mana paham sama perasaan seorang penggemar,” dia tertawa renyah.

“Saya paham kok perasaan seorang penggemar. Soalnya saya juga seorang penggemar yang sekarang lagi duduk bersama idolanya,” aku menoleh ke arahnya sembari tersenyum.

“Kebiasaan deh bikin orang salah paham. Jangan berkata manis ke sembarang orang. Orangnya belum tentu memaknai itu sebagai becandaan,” protesnya

Aku tertawa setengah jalan. Bagaimana caranya menjelaskan ke perempuan ini bahwa aku tidak sedang melempar candaan? Aku berdiri kemudian memberi kode kepadanya untuk berjalan menyusuri tempat kami bertemu ini.

“Kyr, kamu percaya nggak ya kalau saya bilang sebagian besar tulisan saya itu kamu inspirasinya?” aku menatap becak hias yang melintas. Aku tak berani menatapnya sekarang sebab aku tengah membuka rahasia yang demikian dalam tersimpan.

Dia menarik nafas panjang seakan pernyataanku baru saja membebani pundaknya. Tergambar kegundahan di wajah yang awalnya kupikir hanya bisa menampakkan ekspresi bahagia itu.

“Saya sudah putus dari pacar saya. Nggak ada yang tahu soal ini kecuali keluarga kami berdua. Hati saya seperti terus-terusan berkelana meski saya bersama dia,” aku dan dia sama-sama menatap ke depan seolah sepeda hias yang melintas lebih menarik ketimbang bertemu pandang. Meski tempat ini demikian riuh oleh suara-suara, meski aku menatap apapun selain dirinya--aku sadar pikiranku hanya ingin mendengarnya saat ini.

“Kamu bersama perempuan yang menemanimu dari bawah dan hatimu tidak bisa menetap?” ucapannya dengan nada sedikit menghakimi.

“Kamu juga menemani saya dari bawah,” potongku cepat. “Kamu jadi pembaca saya sejak awal,”

“Beda, Mas. Saya nggak ada selama masa-masa sulit Mas Ikra. Saya nggak tahu bagaimana susahnya perjalanan Mas Ikra sampai sekarang. Perempuan itu jauh lebih berharga buat hidup Mas Ikra ketimbang saya,” dia terdengar sangat serius kali ini. “Saya merasa sakit yang sama atau bahkan lebih ketika menginjak kaki orang lain. Jangan bikin saya menginjak kaki perempuan itu,”

“Kamu nggak tau kan susah payahnya menemukan seseorang yang tepat dan dihantui ketakutan melewatkannya untuk kedua kalinya? Kalau kamu nggak tau apa yang saya rasakan sekarang, jangan berkomentar soal rasa sakit. Saya merasa jauh lebih sakit dari terinjak, menginjak, atau apapun itu sekarang. Saya sudah putus, Kyr. Kalau kita bersama, itu bukan karena saya mengkhianati mantan pacar saya atau karena kamu merebut saya,” aku tidak sadar kalau nada bicaraku meninggi.

Perjalanan kami kemudian menjadi sunyi karena kami sama-sama kehabisan kata. Pikiran kami sibuk memikirkan permasalahan yang sebenarnya tidak rumit jika tidak melibatkan perasaan yang dalam. Aku menghela nafas panjang berkali-kali tetapi tetap merasa kekurangan oksigen. Aku pun bisa menangkap kecemasan yang demikian kusut di wajahnya meski aku tidak menatapnya.

“Sudah malam. Kamu sebaiknya pulang,” ujarku setelah 10 menit kami berjalan bersisihan dalam keheningan dengan langkah yang kian melambat. “Kamu pasti nggak mau ya saya antar pulang?” ucapanku yang disambut anggukan tetapi dengan sinar mata yang redup. Aku memaksakan diri untuk tersenyum atas sikapnya yang begitu dingin. “Hati-hati di jalan ya, Kyr. Maaf kalau perasaan saya jadi beban buat kamu. Ada bagian dari diri saya yang pengen kamu lupa obrolan malam ini supaya kamu nggak merasa berat melangkah di kemudian hari tapi...” aku merasa air mata yang menggantung di sudut mata. “Bagian dari diri saya yang egois ingin kamu terus mengingat dan memikirkan obrolan kita barusan. Kamu bisa menghubungi saya kapanpun kamu mau, Kyr. Saya seperti pintu yang terbuka lebar buat kamu. Meski saya nggak akan bisa marah kalau kamu keluar dari pintu itu sambil membantingnya,” aku hampir tak kuasa berujar menyadari kalimatku mungkin saja menjadi akhir dari perkelanaan panjangku selama ini. Mungkin aku sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang kutuliskan di halaman pertama buku yang kini tersimpan di tasnya. Mungkin saja aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi setelah ini. Aku memejamkan mataku berharap air mata gagal mengalir. Aku berharap dia tiba-tiba menghilang dari hadapanku agar tidak melihatku menangis dua kali di hari yang sama. Terbayang kembali tulisan yang kutulis dengan senyum terbahagia di buku miliknya:

Dari I, untuk K
“Jika buku ini adalah sungai, kamu adalah lautan ke mana ia bermuara.”
Kyra-kyra kapan kita bisa bertemu lagi?

Di bawahnya kutulis nomor ponselku.
-----
(to be continued)

No comments :

Post a Comment

Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .