27 Jun 2019

MUSE

Part 3: Fiksi
source: pixabay.com
“Saya seperti pintu yang terbuka lebar buat kamu. Meski saya nggak akan bisa marah kalau kamu keluar dari pintu itu sambil membantingnya,” aku hampir tak kuasa berujar menyadari kalimatku mungkin saja menjadi akhir dari perkelanaan panjangku selama ini. Aku memejamkan mataku berharap air mata gagal mengalir. Cepat pergi dari sini, teriakku dalam hati. Sejak dua tahun lalu, aku terus merutuki diri telah melepaskannya pergi begitu saja tetapi saat ini untuk pertama kalinya aku ingin dia lenyap dari hadapanku. Aku ingin saat aku membuka mata dan air mata yang kutahan dengan kelopak mata ingin mengalir, sepasang mata cokelat tidak sedang menatapku. Jangan hanya enyah dari pandanganku—enyahlah juga dari pikiranku. Aku tidak butuh inspirasi cerita jika jiwaku harus menjadi pengelana abadi karenanya. Aku tidak perlu menulis tentangnya lagi. Suasana Simpang Lima yang riuh rendah ini tidak mampu mengusir kesepian yang kurasakan menyadari seseorang yang hidup dalam ceritaku kini sedang perlahan melangkah menjauh dan mungkin tidak akan kembali lagi.

Aku meninggikan posisi masker yang menutupi wajahku agar saat aku membuka mata, air mata yang mengalir tertutupi olehnya. Aku kemudian mendengar suara langkah yang mengeras seiring mendekat. Derap kaki itu dapat kubedakan di tengah suara lainnya karena begitu inginnya aku mendengarnya selama dua puluh empat bulan ini. Aku membuka mata untuk mendapati lingkaran matanya tidak berwarna cokelat—melainkan memerah. Bahunya naik turun seolah menahan lara yang memukulinya. Dia masih berjarak 5 langkah dariku saat tiba-tiba dia berhenti. Tak ada kata yang terucap darinya meski aku berharap dia saja, bukan aku yang tengah merasa tersesat dalam belantara rasa, yang memulai percakapan.

“Boleh saya keluar dari pintu itu tanpa membantingnya? Saya mau pintu itu baik-baik saja,” suaranya parau. Matanya berkedip cepat seakan menghalau air mata yang hendak mengkhianati ketegaran yang dia tampakkan di depanku. “Boleh saya tidak menginjak kaki perempuan yang sangat menyayangimu? Boleh saya tetap jadi seorang penggemar saja yang bahagia melihat idolanya dari kejauhan?” kali ini dia gagal membendung air mata.

“Apa saya punya hak untuk berkata ‘tidak boleh’, Kyr?” ucapku berusaha setenang mungkin “Semua yang saya rasakan, kamu sudah tahu. Kamu pasti sudah tahu jawaban semua pertanyaanmu kan? Tapi apa saya berhak menentukan pilihan kamu?” dalam suaraku, ada amarah yang kuredam sekuat tenaga.
***

“Mas Ikraaaa,” Kyra berteriak lirik sembari berlarian menuruni tangga gedung kantornya.

Dia berjalan cepat menghampiriku lalu menarik lengan kemejaku untuk mengikutinya. Aku menurut saja berjalan tanpa tahu hendak ke mana perempuan ini akan membawaku. Dia pasti tidak tahu aku sedang tersenyum menyadari jari-jarinya berada demikian dekat denganku. Dia tarik bajuku sampai sobek pun ekpresi di wajahku pasti tidak berubah.

“Ikra Adhima, kamu tau kan kalau orang terkenal itu harus hati-hati muncul di tempat umum? Kenapa tiba-tiba muncul di kantor saya sih?” Dia membawaku ke sebuah taman yang terletak di samping kantor bercat biru itu. Dia memarahiku yang muncul tanpa sepengetahuannya dan baru mengabarinya saat aku sudah duduk di sofa lobby tempatnya bekerja.

“Sejak kapan kamu manggil saya pake nama lengkap? Nggak pake ‘mas’ pula,” mengabaikan protesnya, aku balik memprotesnya.

Alih-alih menjawab, dia justru berteriak histeris dengan suara yang hampir tidak terdengar. Aku hanya menertawakan kepanikannya atas kejutan yang sepertinya tidak pernah diharapkannya itu. Mengetahui aku tidak menyadari kekesalannya, dia memasang muka cemberut. Lagi-lagi dia tak tahu, ekspresi cemberutnya sungguh lucu. Sebagian besar lelaki pasti setuju jika kukatakan ekspresi di wajahnya saat ini hampir-hampir tidak akan membuat kita menyesal membuatnya kesal. Dia cantik saat terdiam, penasaran, tertawa, menangis, maupun cemberut seperti sebungkus permen beragam rasa yang semua rasanya aku sukai.

“Kyra...” aku membaca tulisan di nametag yang menggantung di lehernya. Sepasang mata seseorang yang kupanggil namanya itu turut mengikuti arah pandanganku. Dia menatap nametag-nya kemudian menatapku, menungguku melanjutkan ucapan. “Kamu pernah dikasih tahu nggak sama orang tuamu?” aku berubah serius.

“Soal apa?” dia yang semula berdiri di depanku kemudian mengambil tempat duduk di dekatnya.

“Barangkali jodoh kamu seseorang yang namanya susunan ulang huruf-huruf di namamu,” aku berkata enteng saja.

Dia mengerutkan kening. Perempuan yang duduk di seberangku ini pasti benar-benar tidak tahu, semua ekspresi yang muncul di wajahnya membuatku ingin tersenyum meski dia sedang mengharapkan aku untuk serius. Kyra yang banyak tidak tahunya itu masih sibuk berpikir sembari mengayun-ayunkan kakinya di atas tanah.

“Ikra,” ucapku tanpa ragu.

Dia masih mengerutkan kening. “Y-K-R-A maksudnya?” kakinya berhenti berayun-ayun.

“Y kan dibaca I,” aku menjelaskan sembari menahan tawa.

Perempuan itu menyilangkan kaki bersama pipi yang memerah. Dia mengalihkan perhatiannya dariku seakan mengabarkan betapa canggungnya dia menatapku setelah apa yang kukatakan.

“Maaf ya saya datang tiba-tiba. Saya yakin kamu susah saya ajak ketemu kalau nggak mendadak begini,” aku berusaha membuatnya kembali melihat ke arahku. Upayaku berhasil. Sepasang mata cokelatnya menatapku. “Saya ngerasa utang banyak cerita ke kamu. Soal saya, hubungan saya sama mantan pacar saya, tulisan-tulisan saya, dan soal perasaan saya,” aku mengambil jeda sebelum melanjutkan kalimatku. Matanya berkedip lambat bersama angin yang bergerak pelan di taman ini. “Saya juga pengen denger cerita tentang kamu, orang-orang yang berharga buat kamu, masa-masa yang penting dalam hidup kamu, dan perasaan kamu,”

“Ohhh suddenly you’re the Ikra Adhima I always see on your writings: the serious Ikra,” ekspresinya yang semula kaku oleh kecanggungan sedikit demi sedikit mencair.

“Bukannya saya kadang-kadang di tulisan juga lucu ya?” aku tertawa.

Dia mengangguk. “Tapi lucunya beda. Jenis lucu yang akhirnya justru bikin pembaca terkejut. Ada kedalaman pemikiran di kelucuan Mas Ikra,”

So, you’re suddenly my book reviewer?” aku tersenyum lembut.

“Saya cuma penggemar,” dia ikut tersenyum.

“Tapi saya nggak mau punya hubungan idola dan penggemar sama kamu,” buru-buru aku menanggapinya.

“Terus kamu maunya apa, Mas?” mata bulatnya menerobos otakku dengan sebuah pertanyaan yang tidak pernah kusangka akan diucapkannya. Pertanyaan biasa saja yang diajukan di suasana yang biasa saja oleh seseorang yang seharusnya biasa saja tetapi menghilangkan kemampuanku menyusun kata-kata. Terus kamu maunya apa, Mas? Pertanyaan macam apa itu, gadis bermata cokelat?

“Saya maunya di sini. Cerita sama kamu sampai berganti hari. Melihat mata kamu yang menyinari. Mencuri pandang senyummu yang berseri-seri,” jawabku dengan nada bercanda. Kenyataannya, aku tidak.

“Bisa gitu ya penulis. Perempuan tuh nggak bisa diginiin,” dia memalingkan wajahnya ke arah jalan raya yang tidak terlalu ramai itu. Ada senyum meledek di wajahnya yang ingin saya bingkai untuk saya lihat lagi sewaktu-waktu.

“Kalau saya serius gimana?” lagi-lagi, aku harus menegaskan keseriusan meski dia seharusnya tahu seseorang yang mengucapkan sesuatu berkali-kali pasti tidak sedang becanda.

“Berjalan di samping Mas Ikra aja sudah seperti mimpi buat saya. Penggemar mana sih yang berpikir akan diajak berbicara panjang lebar sama idolanya,” dia tersenyum. “Biarkan saya tetap jadi penggemar ya,” dia tidak menjawab keseriusanku seperti biasa. Karena dia terus-menerus menegaskannya, garis penggemar-idola mungkin adalah hal yang paling aku benci saat ini.

“Susah banget ya ngeyakinin kamu. Kamu butuh saya tulis dalam berapa buku buat yakin? Saya harus gimana buat meyakinkan...”

“Saya yakin kok, Mas,” dia memotongku. Dia pasti menyadari ekspresi terkejutku. “Tapi Mas Ikra, seseorang yang lebih pantas sedang mengharapkan Mas,” dia menunjukkan tulisan di blog seseorang yang sempat setahun menemani perjalananku. “Seseorang yang perjuangannya buat Mas Ikra nggak akan bisa saya tandingin. Dua orang yang saling mendukung karir menulisnya, saya nggak akan pernah berani melangkah mendekat karena kalian berdua benar-benar cocok. Kalian idola dan inspirasi banyak orang. Saya...” dia menghela nafas panjang. “selalu berharap Mas Ikra mendapat perempuan terbaik. Dan itu bukan saya. Sebelum ini terlalu jauh, mari berhenti, Mas. Saya khawatir jika kita terus-terusan dekat, suatu saat saya berubah nekat menginjak kaki perempuan terbaik.” Matanya memerah. Dari lingkaran itu, aku bisa melihat seberapa keras usahanya agar tidak terlihat cengeng di depanku.

Aku selalu menganggap Kyra tidak banyak tahu meski kenyataannya aku pun begitu. Aku tidak tahu beban yang ditanggungnya karena keinginanku bersamanya. Aku tidak tahu hatinya yang hancur lebur sebab hanya berlindung di balik dinding yang sebenarnya rapuh—dan aku terus-menerus menggempur tembok itu. Aku tidak tahu bahwa hatinya sarat akan pertimbangan tentang kebahagiaanku dan kebahagiaan perempuan lain. Aku tidak tahu bahwa kejujurannya terasa teramat pahit—jauh lebih pahit dari sekadar ucapan tidak menyukaiku.

“Kamu perempuan baik, Kyr,” ujarku getir. Aku selalu tidak siap melepasnya tetapi apakah aku siap dengan penderitaan yang lebih besar melihatnya terkurung dalam nestapa semacam ini? “Kamu memikirkan dan mempertimbangkan orang lain dengan sangat serius. Di saat kamu mendorong saya menjauh, di saat itu pula kamu membuat saya semakin kagum karena kebaikan hatimu,” aku menatap matanya yang entah mengapa kerap sendu saat bersamaku. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk menahannya mengetahui barangkali kebahagiaannya adalah saat tidak dibebani perasaanku. “So, this is really a good bye, Kyr?” aku benar-benar melepaskannya setelah segala usaha kukerahkan dan dia nampak tak bahagia.

Dia mengangguk. Baru dua kali aku melihatnya mengangguk dengan sorot mata yang redup tetapi aku berani memastikan bahwa Kyra tidak sedang baik-baik saja saat demikian. Aku membuang pandanganku darinya sebab khawatir hati yang remuk berserakan terbaca olehnya. Belum lama berselang dari aku tidak menatapnya, aku mendengar air mata yang teramat lirih mengaliri wajahnya. Mata cokelatnya semakin memerah. Ada beban yang tak kasat mata di pundaknya yang kusadari saat nafasnya terdengar berat. Bahunya naik turun seolah lara menghantami dan meleburkan seluruh kekuatannya.

“Kyra, boleh saya minta tiga hal sebelum kita benar-benar berpisah?”

Dia mengangguk lemah.

“Pertama,” aku menarik nafas sebelum mengucapkan sesuatu yang akan menarikku semakin dekat dengan perpisahan. Satu dari tiga hak permintaan yang boleh kuminta darinya akan segera kugunakan. “Tolong berhenti menangis. Bukan hanya sekarang, tapi saat di masa depan kamu menangis, ingat kata-kata saya ini. Saya mungkin nggak akan ada saat kamu sedih di masa depan tetapi semoga kata-kata saya ini selalu ada: jangan menangis, perempuan baik,”

Dia bergegas menghapus air mata di wajahnya. Saat air matanya menghilang tersapu tangannya, air mataku mengalir. Aku tidak tahu bahwa penyesalan akan menghampiriku secepat ini menyadari dia bergegas melakukan permintaanku. Seolah ingin segera melambaikan perpisahan, dia melakukan apa yang kuucapkan meskipun selama ini dia jarang mengiyakan ketika aku berujar. Aku dipukuli keraguan barangkali aku menyerah terlalu cepat saat aku seharusnya memperjuangkannya lagi.

“Apa permintaan kedua Mas Ikra?” suaranya hampir tidak terdengar.

Aku menggeleng. Aku takut berpisah dengannya. Aku ingin menunda permintaan kedua dan ketigaku selamanya agar tidak pernah ada perpisahan antara aku dan dia. Bolehkah jika dua permintaan yang tersisa adalah aku ingin selamanya menulis tentangnya dan menikah dengannya?

Kenyataannya, perempuan bermata cokelat yang menemani menulis sampai aku tua dan menutup mata hanyalah fiksi dalam hidupku. Kenyataannya, cerpen “Fiksi” yang pernah aku tulis karena aku memimpikan bahwa dia hidup dalam dunia fiksiku saja agar bisa aku bisa menentukan kisah kami—tetaplah fiksi. Segala yang terjadi di antara aku dan dia di dalam dunia fiksiku hanyalah fiksi yang tidak sedikit pun berkehendak melompat ke dunia nyata. Dan aku berharap apa yang terjadi antara aku dan dia di dunia nyata hanyalah fiksi semata agar aku bisa menghapusnya semudah aku membuang tulisanku. Dunia fiksi dan dunia nyata, bisakah kalian bertukar tempat?

Aku memejamkan mata mengingat kembali masa di mana aku kembali menemukannya di bedah buku yang berlangsung dua minggu yang lalu. Seorang perempuan yang datang kepadaku menyodorkan bukunya saat tiba gilirannya mendapat tanda tanganku.

“Apa hal yang paling tidak Mas Ikra sukai saat ini?” suaranya mengalihkanku yang sedang memastikan Kyra masih duduk menunggu antrian untuk mendapat tanda tangan.

“Iya?” aku terkejut oleh pertanyaannya. “Hmmm... saya nggak suka dipisahkan dari inspirasi menulis saya,” jawabku sembari tersenyum.

“Kalau hal yang paling disukai?” pertanyaannya kali ini mengejutkanku yang sedang membubuhkan goresan tanganku di halaman pertama bukunya.

“Cerita dalam buku saya menjadi kenyataan. Doakan saya ya,” aku mengembalikan buku di tanganku kepada pemiliknya. Panitia baru saja memberi tahu kalau namanya Kyra. Aku pun menunduk dan berdoa: jangan pisahkan aku dari Kyra. Jadikan fiksi tentang Kyra kenyataan dalam hidupku. Aku telah mengemis hal itu dua tahun ini, Tuhanku.
 -------------------
(to be continued)

 ‘Di antara hal-hal berbahaya di dunia, dicintai penyair adalah salah satunya.’ (Sri Ajati)



No comments :

Post a Comment

Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .