19 Jul 2019

MUSE

PART 5: SEMESTA

“Mas Ikra, saya besok ke Jakarta,” bodohnya aku mengangkat panggilan tanpa membaca terlebih dahulu nama yang muncul di layar. Meski telah tujuh bulan berlalu sejak memintanya menjadi sahabatku, aku tidak siap disapa olehnya sebuah malam di mana aku sedang menulis untuknya.

“Kenapa kamu mengabari saya?” aku menyangga ponselku dengan bahu kiri agar aku bisa melanjukan mengetik. Aku mendengar Kyra menjelaskan bahwa sebagai seorang sahabat, aku berhak tahu dia benar-benar akan datang ke acara pernikahanku lusa. Aku membantah alasannya mengabariku karena aku berhak tahu. Kita semua tahu, kita selalu lebih berhak menentukan apakah kita ingin atau tidak ingin mengabari seseorang sekalipun orang tersebut berhak tahu. Dia pun melempar pertanyaan—sesuatu yang selalu dia lakukan saat sebenarnya aku berniat bersembunyi dari kenyataan bernama perasaan.

11 Jul 2019

MUSE

PART 4: MUSE 
source: pixabay.com
“Mas Ikraaaa,” aku berlari menuruni tangga kemudian menghampiri sesesorang yang duduk dengan tenangnya di sofa. “Ngapain coba di sini?” aku setengah berbisik sambil menarik lengan bajunya agar dia mengikutiku.

“Mau ada film baru dan Tiva Arinka jadi penulis script-nya. Salah satu set-nya Semarang. Aku diajak bantuin nulis,” dia tidak sedikit pun berontak menyadari langkah kakiku semakin cepat yang sejatinya menggambarkan perasaanku mendengar nama perempuan itu. “Aku mau riset buat script-nya,”
Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .