11 Jul 2019

MUSE

PART 4: MUSE 
source: pixabay.com
“Mas Ikraaaa,” aku berlari menuruni tangga kemudian menghampiri sesesorang yang duduk dengan tenangnya di sofa. “Ngapain coba di sini?” aku setengah berbisik sambil menarik lengan bajunya agar dia mengikutiku.

“Mau ada film baru dan Tiva Arinka jadi penulis script-nya. Salah satu set-nya Semarang. Aku diajak bantuin nulis,” dia tidak sedikit pun berontak menyadari langkah kakiku semakin cepat yang sejatinya menggambarkan perasaanku mendengar nama perempuan itu. “Aku mau riset buat script-nya,”


“Nyebut mantan pacar kaya orang lain aja sih, Mas. Pake nama lengkap gitu,” protesku. Sebenarnya, ada perasaan senang menyadari dia selalu menyebutkan namaku dengan intonasi yang lebih hangat ketimbang saat dia menyebutkan nama perempuan lain. Tetapi terselip sedikit kesedihan menyadari, dia akan terlibat dalam sebuah proyek bersama seorang perempuan yang belum lama ini menulis: I’m gonna working with my favourite person for the upcoming movie. Yes he’s always be my favourite no matter what.”. Sang penulis menceritakan kebahagiaannya menggarap skenario untuk film yang masih dirahasiakannya ini. Kini aku tak perlu menebak-nebak lagi: tulisan itu untuk pria yang sedang pasrah mengikuti langkah kakiku ini.

“Yeah. Jarak kami sekarang sejauh itu. Proyek ini aku terima sebelum kami putus dan aku harus tetap profesional kan ngerjainnya sekarang,” ucapannya menyadarkanku dari pergulatan pikiran.

“Ikra Adhima, kamu tau kan kalau orang terkenal itu harus hati-hati muncul di tempat umum? Kenapa tiba-tiba muncul di kantor saya sih?” tanpa disadari kami sudah sampai di taman yang kutuju.

“Sejak kapan kamu manggil saya pake nama lengkap? Nggak pake ‘mas’ pula,” dia memprotesku. Wajahnya setengah memprotes, setengah tersenyum—pesona apa lagi ini, Ikra Adhima?

Yeah. Aku ingin jarak kami sekarang sejauh itu. Aku memanggilnya dengan nama lengkap seperti seorang penggemar pada umumnya. Aku menegakan diri menegaskan batas ini sebab aku harus segera berucap selamat tinggal sebelum jarak kami semakin dekat. Tiva Arinka, penulis buku dan skenario yang belakangan menjadi salah satu penulis favorit remaja adalah alasannya. Perempuan itu selalu berbinar-binar membagi momen kebersamaannya dengan pria di depanku di media sosialnya. Jari-jarinya sering mengetikkan ucapan syukur tentang keberadaan seseorang yang kini sedang menampakan wajah memprotes setengah hati itu. Aku tidak ingin menginjak kaki seorang perempuan yang sedari mula menemani lelaki yang bagiku, kebahagiaannya teramat penting. Aku tidak akan bisa menginjak kakinya karena tiga alasan: aku memang tidak ingin menyakitinya, aku tahu betapa banyak perjuangannya untuk lelaki ini, dan sekeras apapun aku berusaha menjangkaunya, kakinya terlalu tinggi mengawang di atas sana.

“So, this is really a good bye, Kyr?” suaranya terdengar lemah. Aku mengangguk tanpa berani menatap matanya. Aku takut tembok rapuh yang kubangun akan dirobohkan begitu saja oleh matanya yang sayu. Tembok itu hanya dibangun oleh serpihan-serpihan kecil yang tidak paham mengapa mereka harus membatasiku dengan lelaki ini. Bahuku naik turun seiring upadaya teramat keras membentengi air mata. Tetapi sekuat apapun usaha yang dikerahkan, tidak ada seseorang pun di dunia ini yang tidak merasa nelangsa saat kehilangan seseorang yang diinginkan untuk membersamainya seumur hidup, bukan? Setiap orang merasa sedemikian remuk redam saat menyadari bahwa di masa depan, mungkin tidak akan ada lagi kemungkinan untuk berjalan bersisihan dengan seseorang yang teramat kita sayangi, bukan?

Dia mengangguk kecil berkali-kali seolah berulang-ulang terbentur kenyataan yang menyakitkan dan dia harus mengakui kekalahannya. Sandiwaraku menghapus air mata sebagai perwujudan permintaan pertamanya belum tuntas ketika aku melihatnya beranjak dari kursi di depanku. Hatiku pecah lebur menjadi serbuk yang tak kuyakini akan kembali utuh melihatnya mulai melangkah. Bagaimana perempuan ini bisa disebut perempuan baik oleh lelaki yang disukainya sementara saat ini dia ingin berlari memeluk dan membatalkan perpisahan yang semula diinginkannya? Berbanding terbalik dengan ketenangan di wajahku, tubuhku gemetaran sebab bumi di tengah aku dan dia seolah membelah dan aku tidak lagi bisa melompati jarak yang membentang. Kini aku dirundung penyesalan yang datang terlalu cepat.

“Ibu saya, Kyr, minta saya segera menikah. Apa saya tega membantah Beliau? Dia menghentikan langkahnya. Suaranya menggoncang keteguhanku yang semula terus mendorongnya mundur tanpa sedikit pun mempedulikan perasaannya. Sungguh dia tertipu oleh kekuatan hati yang nampak saat aku tersenyum menghapus air mata. Aku tidak ingin mewujudkan keinginan yang mendekatkan perpisahan kami tetapi apa yang bisa aku lakukan saat ini selain menurut padanya? Sedari dulu, aku selalu bercita-cita bisa menurut kata-katanya tetapi aku kerap mengabaikan dan membantahnya karena tak ingin semakin terjerembab dalam kubangan perasaan yang tak seharusnya. Menjauh adalah hal yang sedari awal seharusnya kulakukan meski aku tidak ingin melakukannya, bukan? Maka kumohon kuatlah hatiku

“Tadinya saya pikir saya bisa membawa kamu ke ibu saya. Kamu semestinya tahu seberapa besar keinginan itu melihat saya berkalil-kali datang bak pengemis. Tapi sekarang mungkin saya akan membawa Tiva,” dia menatapku penuh amarah. Ada kecewa di merah lingkaran matanya yang mungkin juga terduplikasi di mataku. Hatiku perih mengetahui aku telah menjadi tokoh antagonis dalam hidupnya meski dia selalu menganggapku tokoh protagonis. Mungkin inilah kesempatan terakhirnya untuk mengganti takdirnya dan aku mengacaukan segenap usahanya dengan menyingkirkannya bak duri yang kutemui di tengah jalan. Bahkan aku sendiri membenci balasanku terhadap kesungguh-sungguhannya. Aku benci bagaimana aku telah menjadikannya pecundang hanya karena aku menginginkan kebaikan yang menurutku—tetapi belum tentu menurutnya.

Aku diam di tempat bukan karena aku tidak ingin menghalanginya pergi. Aku terdiam karena menyadari perempuan bodoh ini, Mas, hanya akan menambah dalam lukamu dengan pikirannya yang berubah-ubah dengan mudahnya.
***

“Mas Ikra, saya besok ke Jakarta,” aku menyapanya tanpa berbasa-basi. Sudah tujuh bulan ini aku menjalankan permintaan ketiganya dan kami berubah menjadi seakrab ini.


“Kenapa kamu mengabari saya?” aku bisa mendengar suara jari-jarinya berlarian di atas keyboard. Pasti dia sedang menyangga ponselnya dengan bahu kirinya seperti biasanya saat dia mengangkat telepon sembari membuat tulisan

“Karena kamu berhak tahu, Mas,” Ujarku. “Katanya saya harus jadi sahabat. Dan seseorang seharusnya datang ke pernikahan sahabatnya bukan?” aku mengulangi permintaan ketiganya itu.

Suara tuts keyboard-nya berhenti. Ada keheningan dua detik yang terasa demikian beku.

“Ketika kamu mengabari seseorang, Kyr, bukan karena orang lain berhak untuk mendengarnya,” mungkin kini dia sedang memegangi ponselnya sehingga suaranya lebih terdengar.

“Lalu?” aku tak mengerti arah pembicaraannya.

“Karena kamu. Karena kamu ingin seseorang itu mengetahuinya,” aku bisa mendengar senyum setengah jalan yang sering dia lempar saat aku menghindari kejujurannya di masa lalu. Aku seperti raja yang di-skak mat di papan catur: tak ada pilihan kecuali menyatakan diri menyerah. Aku menarik nafas berat yang aku yakin terdengar dari seberang sana.

“Mari bertemu di sebuah tempat, Kyr,” ujarnya menyadari aku tak kunjung berbicara.

“Di mana?” jawabku lirih.

“Tempat yang paling jauh dari perpisahan,” suaranya saat berbicara dengan nada serius seperti saat ini selalu membuatku khawatir aku akan rubuh begitu saja.

“Di mana itu?” aku menahan air mata yang mengoyak-goyak sudut mataku.

“Pertemuan,” suaranya terdengar serak. Aku bisa mendengarnya menjauhkan telepon genggamnya. Kini aku mendengar suara tangisnya. Ikra Adhima tidak pernah mengeluarkan suara saat menangis tetapi malam ini, aku mendengarnya sesegukan menangis.
***

Aku menutup panggilanku mengetahui Mas Ikra tidak akan kembali berbicara. Di meja kerjaku tergeletak buku yang diberikannya saat kami mengelilingi Simpang Lima. Belum lama ini aku membaca ulang buku itu karena ingin mengenang perasaannya kepadaku. Bolehkan aku untuk egois menyenangi kenyataan bahwa kau menulis semua ini dengan aku sebagai inspirasinya, Mas Ikra. Bolehkan aku menyenangi apa-apa yang ada di antara kita meski aku tahu ini akan segera menjadi sepenggal kisah hidup yang menyakiti kita pada akhirnya. Bolehkan aku untuk berbahagia bahwa aku adalah perempuan yang memberi nyawa pada baris, larik, dan paragraf dalam bukumu ini.

Aku membuka buku bersampul biru tua itu. Di bawah setiap judul, dia menulis kata-kata untukku. Perempuan mana yang tidak mengerti harus menangis atau tersenyum membaca kata-katamu? Aku.

Sepeda
(Apakah aneh jika saya ingin hidup di sebuah tempat yang tak terlalu ramai agar saat sore hari saya bisa bersepeda denganmu?)

Kereta
(Suatu hari saya ingin mengabarkan kepada bapak saya, seseorang yang membaca tulisan ini sedang mendengarkan saya berlatih berbicara sebelum sebuah acara bedah buku di kota yang dituju oleh perjalanan kereta ini)

Fiksi
(Bolehkah saya menukar dunia nyata dengan dunia fiksi? Saya ingin hidup bersamamu seperti di dalam fiksi yang saya tulis.)

Muse
(Kyr, saya hanya menulis tentang satu perempuan. Perempuan itu sedang membaca tulisan ini sekarang. Hello, muse.)

Aku menutup buku itu khawatir jika aku melanjutkan membacanya, aku tidak akan berhenti menangis. Mas Ikra sudah memintaku untuk berhenti menangis bukan? Aku menjatuhkan kepalaku ke meja. Di pikiranku memutar adegan pertemuan pertamaku dengannya: tempat yang dia sebut sebagai tempat yang paling jauh dari perpisahan.
***

Aku sedang menyusuri rak bagian novel sebelum akhirnya menoleh sebab tatapan seseorang kepada sebuah buku di hadapannya. Aku mengenalinya tetapi tidak mengetahui bahwa matanya dapat berbinar demikian terang. Aku berjalan mendekat. Kuraih buku di depannya sembari menyapanya.

“Mas Ikra, boleh minta tanda tangannya?” ujarku sembari menyodorkan buku yang baru saja kuambil.

“Kamu kenal saya?” bola matanya hampir melompat saat menyadari keberadaanku di sampingnya.

Ingin sekali aku mengangguk penuh semangat tetapi khawatir dia akan menganggapku penggemar yang mengejar-ngejarnya. Hmmmm... Aku tidak hanya mengenalmu. Aku mencintaimu. Tenang. Aku tidak akan menganggu harimu dengan perasaanku. Aku akan berlalu setelah mendapatkan tanda tangan yang dapat kupandangi tiap aku merasa jatuh hati kepadamu lagi dan lagi.

Kami mengobrol sejenak yang terasa seperti berjam-jam. Aku mendapati sepasang matanya berbinar terang saat menatapku—mungkin karena dia memang sangat menghargai penggemarnya—yang kemudian hari terbukti keliru. Dia menatapku demikian sebab aku adalah perempuan yang di kemudian hari akan mewarnai tulisannya. Aku melambaikan bukunya di tanganku kemudian berlalu. Aku memeluk bukunya seolah bisa memeluknya melalui buku ini. Sebelum menapaki eskalator, aku menoleh dan mendapati sepasang matanya menatapku haru—tatapan yang membuatku ingin kembali kepadanya saat itu juga.

Ikra Adhima, sampai bertemu lagi. Semoga saat kita bertemu nanti, jantungku tidak melompat-lompat seperti ini. Aku ingin menjadi penggemar biasa yang tidak memiliki harapan apa-apa kecuali melihatmu bahagia. Maka, saat berjumpa nanti, aku ingin menatapmu dengan tanpa pengharapan. Oh ya, boleh saya berterus terang soal sesuatu, Mas Ikra? Dengarkan saya kali ini saja: saya jatuh cinta kepadamu sejak sebelum kita bertemu di sudut Gramedia Matraman ini. Aku mencintai pemikiran yang kau tuangkan dalam larik-larik kata jauh sebelum aku tahu, tatapan matamu lebih hidup dari kata-katamu.
***

Aku menghela nafas panjang sebelum melangkah menyusuri deretan panjang karangan bunga yang semarak menertawaiku. Bunga-bunga yang indah itu berbaris menyusun namanya dan nama seseorang. Aku berhenti melangkah kemudian mengutuki kebodohan yang mendorongku mengiyakan permintaan ketiganya. Aku takut mengakui sebenarnya aku terlalu papa untuk melangkah memasuki gedung di depanku. Aku menatap flat shoes berwarna hitam yang memeluk kedua kakiku sembari tersenyum getir. Pikiranku memutar ulang pertemuan kami di Semarang tujuh bulan lalu yang menjadi alasan aku menyimpan semua high heels-ku.

“Kyr, kamu selalu ngantor pake high heels?” dia pasti sedang memperhatikan bagaimana aku kesulitan berjalan cepat dengan sepatu berhak tinggi ini. Aku mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.

“Empat kata buat kamu,” ujarnya lagi.

“Apa?”

“Kurangi. Pakai. High. Heels,” meski tanpa menoleh, aku bisa membayangkan dia menghitung dengan jari kirinya. Lelaki mana sih yang empat kata untuk seorang perempuan isinya adalah ‘kurangi pakai high heels’?

“Kenapa?” kali ini aku tak kuasa untuk menahan diri tak berbalik arah. Betapa terkejutnya aku melihat tangan kirinya masih mengarah ke atas dengan 4 jari terlipat menyisakan jari kelingkingnya persis dengan yang aku bayangkan. Keterkejutanku bertambah lengkap melihat senyum lugunya yang selalu membuatku merutuk dalam hati: kapan hatiku akan berhenti berbunga-bunga melihat senyum ini?

“Biar aku nggak kalah tinggi,” dia merendahkan badannya. Aku tertawa kecil sebab bahkan saat dia merendahkan badannya dan aku memakai high heels, aku masih hanya setinggi telinganya. Dia ikut tertawa dengan polosnya. Aku bersiap kembali menyeretnya ke taman yang tak tak terletak jauh dari kantorku sebelum dia berujar dengan nada serius, “biar lebih sehat, Kyr. Make high heels pas acara-acara penting aja misalnya pas kita resepsian,” dia tertawa dengan polos. Oh, lelaki ini selalu berayun-ayun dari sisi serius dan sisi jenaka dengan mudahnya yang membuat dirinya penuh pesona.
***

Aku melangkah mendekat ke arah pelaminannya dengan sepatu tak berhak yang akhir-akhir ini menjadi favoritku. Ini acara resepsinya tapi bukan acara resepsiku—jika hanya salah satu dari kita yang mengadakan resepsi, aku tak perlu memakai high heels, bukan, Mas Ikra?

Pandanganku bertemu dengan seseorang yang menatap lembut—seseorang yang membuat hatiku hangat. Seseorang yang tidak berhenti mengusahakan apa-apa yang dia inginkan—tetapi berhenti saat aku memintanya. Seseorang yang bola matanya membeku saat menatapku. Seseorang yang matanya melengkung bulat sabit saat tersenyum. Seseorang yang tidak berhenti tersenyum saat bersamaku. Seseorang yang aku ketahui ketulusannya bahkan saat aku tatapan kami berpisah di Gramedia Matraman hampir tiga tahun yang lalu itu. Seseorang yang seharusnya mengejarku kala itu, atau aku yang seharusnya tidak pergi—entah mana yang tepat. Seseorang yang jika aku boleh, ingin kuturuti semua permintaannya sampai akhir hayatku.

Berdiri di tengah-tengah kerumuman tamu undangan pernikahannya, aku bisa melihatnya di pelaminan. Aku bisa melihat sorot matanya yang penuh bahasa itu tak lepas menatapku. Dia tersenyum tetapi aku bisa melihat lapisan air mata yang menangkupi bola matanya. Bagian diriku yang egois menyenangi bahwa dia menatapku dengan cara yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Dia selalu menatapku dengan haru seolah menemukan harta karun yang telah dicarinya seumur hidupku. 

Berdiri seperti ini, aku merasa seperti tokoh utama kedua dalam ceritamu. Tokoh utama kedua dalam semua film, selalu dilupakan begitu saja sebab semua orang berfokus pada tokoh utama. I’m just a second female lead in a secret story that only you and I know.

Terima kasih sudah datang, Kyra,” ucapnya sehangat caranya menatapku yang tidak pernah berubah. Perempuan di sampingnya menoleh ke arahku. Dia berbisik ke suaminya yang bisa kudengar dari tempatku berdiri.

“Ikra banyak cerita. Katanya kamu banyak berperan supaya kami jadian lagi. Terima kasih ya, Kyra.” Sang penulis skenario menggenggam tanganku mengabarkan rasa terima kasih yang sangat banyak. Aku tersenyum pada bola matanya yang terlihat sangat bahagia. Aku mengalihkan tatapanku kepada sang mempelai lelaki yang tersenyum datar dengan tatapan yang berubah dingin. Ikra Adhima tidak tersenyum dengan cara demikian sepanjang aku mengenalnya. Cahaya lampu kamera berkilatan di belakangku mengabadikan tatapan pria di depanku ini membuatku merasa hasil fotonya akan berjudul: wanita yang dibenci Ikra. Bagaimana dia tersenyum sekaku ini sementara aku sedang mewujudkan keinginan ketiganya?

Jika Mas Ikra membenciku, aku membenci diriku yang melepaskan kesempatan duduk di pelaminan ini. Jika Mas Ikra berkata ingin menukar dunia nyata dengan dunia fiksi, aku ingin menukar posisi di depannya menjadi di sampingnya. Aku menunduk menahan air mata yang hendak tumpah mengkhianati janji pertamaku pada lelaki ini. Aku bergegas berjalan cepat meninggalkan pelaminan kemudian melambaikan tanganku kepada kedua mempelai dari bawah panggung. Sekali ini saja, pastikan dirimu bisa benar-benar tersenyum dengan tulus, tanpa air mata, Kyra. Sebab lelaki yang selalu kau doakan kebahagiaannya itu sedang berada di hari yang bahagia. Aku membalik badan untuk berjalan ke arah pintu keluar. Aku menatap sepatu yang memeluk kaki-kakiku erat seolah hendak menghiburku.

Mas Ikra, kau pernah bertanya mengapa aku tidak pernah terlihat gembira saat kau mencoba meyakinkanku bahwa akulah yang hidup dalam cerita-ceritamu. Bukan aku tak bahagia tetapi mungkin aku hanya terlalu tamak menginginkan sesuatu yang lebih. Hmmm... aku tidak ingin menjadi tokoh utama dalam cerita yang kau tulis di bukumu. Aku ingin menjadi tokoh utama dalam cerita yang Tuhan tulis di takdirmu. Aku hanya meminta untuk menjadi tokoh utama dalam cerita yang Tuhan tulis di takdirmu.

Selamat menikah, tokoh utama ceritaku.
------
(to be continued)

No comments :

Post a Comment

Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .