19 Jul 2019

MUSE

PART 5: SEMESTA

“Mas Ikra, saya besok ke Jakarta,” bodohnya aku mengangkat panggilan tanpa membaca terlebih dahulu nama yang muncul di layar. Meski telah tujuh bulan berlalu sejak memintanya menjadi sahabatku, aku tidak siap disapa olehnya sebuah malam di mana aku sedang menulis untuknya.

“Kenapa kamu mengabari saya?” aku menyangga ponselku dengan bahu kiri agar aku bisa melanjukan mengetik. Aku mendengar Kyra menjelaskan bahwa sebagai seorang sahabat, aku berhak tahu dia benar-benar akan datang ke acara pernikahanku lusa. Aku membantah alasannya mengabariku karena aku berhak tahu. Kita semua tahu, kita selalu lebih berhak menentukan apakah kita ingin atau tidak ingin mengabari seseorang sekalipun orang tersebut berhak tahu. Dia pun melempar pertanyaan—sesuatu yang selalu dia lakukan saat sebenarnya aku berniat bersembunyi dari kenyataan bernama perasaan.


“Karena kamu. Karena kamu ingin seseorang itu mengetahuinya,” jawabku ketika dia bertanya alasan seseorang mengabari orang lain jika bukan karena orang lain berhak tahu. Aku tersenyum setengah jalan. Tak lama kemudian aku menarik nafas dalam karena Kyra tak kunjung berkata-kata. Aku kembali memojokkannya di sudut sempit meski seharusnya aku sudah usai menghukumnya akibat ketidakjujuran yang dipilihnya sendiri. Ada bagian dalam diriku yang masih ingin terus menyalahkan pilihan tidak bijaksana yang dipilihnya—juga asumsinya tentang kebaikanku yang dia buat sendiri tanpa tahu kebaikan mana yang kuinginkan.

Meski dia tidak pernah mengatakannya, aku tahu perasaannya kepadaku. Aku tidak bisa melupakan momen ketika aku mengucapkan permintaan keduaku “izinkan saya untuk terus menulis tentangmu sampai saya benar-benar ikhlas melepaskanmu” dan mata cokelatnya menatapku penuh haru. Aku tak pernah perlu mendengarnya berterus-terang. Sejak pertama bertemu, mata bulatnya itu selalu berterus-terang. Dia selalu menatapku dalam seakan seluruh dunianya berada di diriku. Aku selalu menatapnya dalam seakan seluruh semestaku berada di dirinya. Apa yang lebih nelangsa dari dua orang yang saling menatap dalam, mengetahui apa-apa yang dicarinya ada di depannya tetapi menyadari ada tembok transparan yang tidak bisa mereka lintasi?

Lalu, bagaimana kau berharap aku tak mendendam ingin menyudutkanmu setelah apa yang kau lakukan kepadaku?

“Mari bertemu di sebuah tempat, Kyr,” aku memecah kesunyian yang membekukan udara Jakarta yang terkenal panas itu. Sebanyak apapun luka yang disebabkan oleh perempuan ini dan ketidakjujurannya, aku masih hanya menginginkan kebahagiaannya. Jika aku membenci ketidakjujurannya, aku seharusnya tidak menirunya dan mengungkapkan apa yang ada di kepalaku dengan lugas bukan?

“Di mana?” Kyra berujar lirih. Suaranya lebih lirih dari helaan nafasnya yang terdengar dari sini.

“Tempat yang paling jauh dari perpisahan,” jawabku tanpa berpikir lagi.

“Di mana itu?” suaranya bergetar. Hah. Perempuan ini masih saja berjuang melawan air mata setelah sekian lama berlalu.

“Pertemuan,” aku menjauhkan ponsel dari tanganku. 

Ketika kau bertemu dengan seseorang yang teramat penting, kau ingin selalu kembali pada pertemuan bukan? Tak apa meski harus mengulang sedari awal--membangun cerita bersama lagi dan lagi--asal berada di tempat terjauh dari perpisahan. 

Hah. Lelaki ini masih saja berjuang melawan air mata setelah sekian lama berlalu. Aku menggunakan kedua tanganku untuk menutup wajah berharap sekali ini aku berhasil tidak menangis. Aku selalu kalah melawan air mata meski aku telah mencoba beragam cara. Ada ribuan pisau yang sedang menghujam dadaku berkali-kali seakan tak puas menghabisiku bahkan setelah hampir tiga tahun berlalu.

Lusa aku akan menikah. Jendela apartemenku memantulkan wajah yang tidak sedang tersenyum. Aku menekan tombol simpan di emailku. Malam itu aku menguras air mataku sampai tertidur.
***

Kyra, saya mengirim surat untukmu melalui email sebab yakin melalui media inilah kamu tidak akan segera membacanya. Saya khawatir kalau kamu cepat-cepat membacanya, kamu akan kecewa berdiri di sebuah masa di mana kamu bisa mengubah keadaan tetapi terpasung tidak bisa berbuat apa-apa. Karena saya sering sekali merasa demikian saat bersamamu, saya tidak ingin kamu merasakannya. Biarlah kamu membacanya setelah saya mengucapkan janji pernikahan, agar kamu tidak punya pilihan kecuali menerima. Jahat sepertinya bukan? Tetapi saya, Kyr, tidak ingin menjebakmu lagi dalam perasaan yang membingungkan.

Kyra, saat membaca pesanmu, atau unggahanmu di sosial media, entah mengapa saya membayangkan ekspresimu. Kamu selalu menampakkan ekspresi yang mudah sekali membekas di ingatan. Ekspresi setengah tersenyum setengah bingung sebab kau tidak ingin mengecewakan seseorang yang menjelaskan sesuatu meski kau tak paham? Ah, saya suka sekali ekpresi itu. Setengah tertawa setengah menahan air mata? Oh, saya tahu kamu sedang berusaha mengatakan kamu baik-baik saja agar orang lain tidak terganggu dengan lukamu. Setengah tergelak setengah menatap dalam? Jangan berikan ekspresi itu pada lelaki lain, Kyra. (Saya becanda. Tapi kamu tahu bukan saya tidak suka becanda soal perasaan).

Sahabat, kamu pernah bertanya apakah saya ingin mengejarmu saat kita bertemu di Gramedia Matraman bukan? Saya tidak menjawab kala itu karena saya khawatir kita akan semakin mengutuk nasib. Saya tidak hanya ingin--saya sungguh mengejarmu kala itu—hanya saja tidak bergegas untuk itu. Saya kehilangan jejakmu di hari pertemuan. Takdir macam apa itu? Seharusnya cukup tulisan-tulisan saja yang dramatis, kehidupan nyata jangan.

Kyra, saat kau menikah nanti, saya harap kau bertemu dengan seseorang yang benar-benar baik. Seseorang yang mendukung mimpimu sedari awal seperti Tiva mendukung mimpi saya—itu kan yang kamu katakan sebagai jenis hubungan yang tidak bisa kau kalahkan? Saya pasti ingin sekali memisahkan kalian agar tidak jadi menikah tetapi saya tidak ingin melukai perempuan berharga ini untuk kedua kalinya.

Kyra, sebagai seorang sahabat, ada sesuatu yang ingin sekali saya nasihatkan kepadamu: menunggulah. Di dunia yang serba tergesa-gesa, menunggulah. Menunggulah jika kamu yakin kamu memang seharusnya menunggu.

Sebab saya tidak sedikit lebih bersabar dalam menunggu, saya kehilangan kesempatan melangkah bersama seseorang di dalam doa. Maka itu, menunggulah untuk yang pantas ditunggu. Menunggulah sekalipun semua orang berlarian tergesa. Tak apa jika kau hanya berdiam diri di tempat, barangkali setelah penantian panjang akan datang yang kau harapkan.

Tapi nasihat kedua saya adalah tentang melangkah. Melangkah saat kamu seharusnya melangkah. Ambillah sikap saat kamu harus bersikap. Kejarlah seseorang dan sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan.

 Sebab saya menunda langkah kala itu, saya kehilangan jejak seseorang yang sepasang matanya saja terucap dalam tulisan tanpa putus.

Kyra, saat melihatmu di acara pernikahan saya, mungkin saya akan lekas mengalihkan pandangan. Jangan khawatir perasaan saya berubah. Efek dari satu detik menetap di matamu saja tidak menghilang dalam hitungan waktu yang singkat. Waktu yang panjang akan berlalu tetapi mungkin beberapa hal tidak akan berubah bagi saya.

Kyra, kenyataan bahwa kamu pernah berdoa untuk keinginan saya agar fiksi saya menjadi kenyataan, selalu menggembirakan hati saya. Mengetahui bahwa kita berdoa yang sama—meski engkau tak tahu maksud sebenarnya dalam doa itu—membuat saya tersenyum senang. Sampai sekarang.

Saya sedang menulis buku berjudul Semesta. Kamu mau tahu makna di baliknya? Ah saya tak perlu memberi tahu. Kamu pasti sudah tahu.

Ps: my feeling for you is valid. I don't know why I feel the urge to emphasize it again  even though you already knew. 

Aku menekan tombol kirim setelah membaca ulang surat yang aku tulis dua hari yang lalu untuk Kyra. Aku memadamkan komputerku kemudian melangkah menuju tempat aku akan mengucapkan janji pernikahanku. Selamat tinggal, tokoh fiksi favoritku--juga tokoh dunia nyata favoritku. Kumohon berdirilah di tengah ruangan pestaku dengan ekspresi bahagia siang ini. Aku juga akan mencoba tersenyum agar yang terabadikan di ingatanmu dan kamera favorit yang kerap menggantung di lehermu itu adalah wajah yang bahagia. Katamu seseorang dengan bulu mata lurus sepertiku adalah seseorang yang gampang menangis. Aku teringat betapa seringnya aku menangis di depanmu. Aku akan tersenyum saat melihatmu hari ini, Kyra. Kamu tahu alasannya, bukan?
*** 

“Kyra ya?” aku menyapa perempuan yang sedari awal acara bedah buku ini membuatku tidak bisa berkonsentrasi khawatir dia menghilang begitu saja. Aku tersenyum pada muka terkejutnya. Buku yang diserahkan kepadaku tidak segera aku buka seperti layaknya saat aku hendak menandatangani buku.

“Kyr, tadi ada peserta yang nanya ke saya apa hal yang paling saya sukai. Kamu bisa nebak nggak jawaban saya apa?” aku membuka buku di tanganku meski tidak berniat untuk menandatanganinya.

“Menjadi penulis yang menyentuh hati banyak orang?” dia mengutarakan sesuatu yang benar meski memasang ekspresi aku-hanya-menebak-saja.

“Kok kamu tahu cita-cita saya?” kali ini aku yang terkejut. “Tapi bukan itu hal yang paling saya sukai,” aku membuka halaman 67 di bukuku. “Saya akan sangat bahagia kalau cerpen ini menjadi kenyataan,” aku menunjuk judul yang tercantum di tengah-tengah halaman itu.

“Sama Kak Tiva?” dia bertanya.

“Bukan,” jawabku dengan senyum mengembang. “Doakan saya ya, Kyr. Saya ingin fiksi ini menjadi kenyataan,”

Dia terlihat ragu kemudian mengangguk kecil. Aku membalas dengan senyum penuh arti yang tidak dia mengerti artinya.

“Buku kamu nggak saya tanda tangan dulu ya. Nanti kita ketemu lagi kan setelah acara?” aku mengulurkan buku di tanganku kepada pemiliknya. Dia mengangguk meski terlihat bingung mengapa aku tidak menggoreskan apapun di bukunya. Dia bersiap melangkah turun dari panggung ketika aku berteriak lirih. “Kyr, saya serius. Doakan saya,” aku melihatnya menengok ke arahku kemudian mengangguk. Dia menatapku dalam, aku menatapnya lebih dalam—seakan tahu bahwa seharusnya kami tidak berpisah pandang.

Hai semestaku, kita berdoa untuk hal yang sama.
----
(The end)

No comments :

Post a Comment

Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .