Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts

3 Jan 2018

DI BALIK LAYAR HOT CHOCOLATE, COLD REALITY, AND WARM YOU

source: weheartit.com
Aloha! Jadi bagaimana perasaan kalian setelah membaca cerita bersambung “Hot Chocolate, Cold Reality, and Warm You?”. Saya tahu saya tidak bisa membuat ending yang menyenangkan semua pihak (some of my friends are #teamKea and I understand their feeling so well *uhuk saya barusan selesai membaca Antologi Rasa dan mlongo karena  akhirnya Keara bukan sama Ruly. Huaaa.). And I’m here to write some notes about what are in my mind around that Kinan-centered story :D

25 Dec 2016

ON MARRIAGE – KAHLIL GIBRAN

ilustration by: @fjalarfjalar
/Fill each other’s cup but not drink from one cup/ Give one another of your bread but eat not from the same loaf/ Sing and dance together and be joyous, but let each one of you be alone/ Give your hearts, but not into each other’s keeping/  (“On Marriage” from The Prophet, Kahlil Gibran)

Yang artinya kira-kira begini:

Saling mengisi cangkir masing-masing tetapi tak meminum dari satu cangkir/ Berbalas memberi roti milikmu tetapi tak memakan dari satu tempat roti/ Menyanyi dan menari bersama dan bersuka cita tetapi mengijinkan tiap-tiap dari kalian untuk sendirian/ Memberikan hatimu tetapi tidak dalam pemeliharaan satu sama lain/

9 Aug 2014

MENGGANDENG MIMPI

Mula-mula aku berjalan menggandeng mimpi. Saking asyiknya bercerita, aku lupa mengulurinya kesempatan berbicara. Dia mengeratkan jemarinya sehingga tanganku sesak seolah tak ada lagi udara di antara jari kami. Aku menerka-nerka mengapa dia memperlakukanku demikian kasar. Diam-diam aku meliriknya. Dia menatapku tajam kemudian sorot matanya menyuruh penglihatanku beralih memperhatikan jalanan di depan.

29 Jun 2014

MENYADUR TUBUHMU

Bolehkah aku menyadur sedikit demi sedikit tubuhmu menjelma puisiku?
Aku mendengar kisah tentangmu dari seorang sahabat. Lazimnya mustahil berhasrat lebih dari sekadar berkawan dengan seseorang yang hanya dikenal melalui telinga. Tetapi aku terperangkap teka-teki dan perjudian mengenai perwujudanmu. Aku menggubah imajinasi tentang mata, senyum, jemari, batin, paru-paru, hingga telapak kakimu ke dalam huruf. Bila kita bersua, apakah kenyataan akan meluruhkan larik-larik yang ku rangkai untuk menyusun tubuhmu?

3 May 2014

PERPUSTAKAAN

Suatu saat, kita akan membangun perpustakaan kecil bersama. Di ruang sederhana itu bukumu dan bukuku bersisihan. Di masa depan, kemejamu akan berdampingan dengan bajuku dalam lemari yang sebangun. Sepatu-sepatumu akan ada di rak yang sewujud bersama sepatuku. Dan mimpi-mimpimu akan ada di laci serupa dengan mimpiku. Sungguh, aku ingin menjadi rumah untukmu. Aku ingin menata buku-buku di perpustakaan itu.

13 Mar 2014

SAJAK SEBATANG LISONG

Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan
(Sajak Sebatang Lisong, W.S. Rendra)
Hari ini saya sedang diklat teknik audit berbantuan komputer (TABK) *gosh, its difficult *my brain is about going to explode. Karena butuh pelarian *tsaah, di saat istirahat saya memutar deklamasi puisi yang selalu berhasil membuat saya merinding. Puisi itu berjudul "Sajak Sebatang Lisong" karya si merak, W.S. Rendra. Puisi yang dibacakan tanggal 19 Agustus 1977 di ITB ini bercerita tentang keadaan negara yang karut marut. Bahasanya nyleneh tetapi membius kita untuk mengangguk-angguk setuju. Selain ulung menulis, kita tahu bahwa Rendra juga begitu apik membacakan puisi. Maka jadilah saya mengangga dalam rasa kagum mendengar deklamasi sang penyair.

30 Nov 2013

KETIKA KU BUKA JENDELA KACA

Pada jendela yang ku buka
Berkaca
Wajahku beda
Ku dengar riuh membahana di jalan raya
Klakson-klakson yang gempita berteriak
Ada dunia yang lebih luas dari sekadar kamarku
Dari sebatas pikiranku
Sudut pandang yang tak sesempit kotak buram
Udara yang tak bermalas-malasan di tepi jendela
Air yang berlarian ke bumi
Debu yang beterbangan
Di luar jendela yang tersangga

10 Oct 2013

JENDELA


Dari jendela yang sama, aku memutar ingatan hari lalu tatkala engkau menyusuri taman di seberang jalan. Di semesta itu, pagi tersulap begitu semarak. Siulanmu membuat burung-burung berlalu lalang di pusaran magnetmu. Kepakan sayap yang terdengar seperti tepuk tangan. Kau melangkah tenang dan memanjakan dara untuk tidak beralih. Sebagian dara bertengger di dahan pohon di ketinggian sana. Polah anak-anak kecil yang membuatmu tertawa riang. Pohon yang dahannya riang menyambutmu, daun yang berebut ingin kau petik.  Kau masih bernyanyi pada gemericikan tangga nada air itu. Parade roda-roda yang berputar seperti melambat di sekelilingmu. Tanganmu menebar butir jagung, kemudian dara berhamburan mendekatimu. Rumput-rumput yang berbaur rasa iri pada binarmu. Kakimu berlarian kecil dan meredam peluh. Napas tersengal-sengal yang kau lempar bersama senyuman. Sulit ku tafsirkan, kau membiarkan semesta mengilaukanmu. 

4 Oct 2013

LUMPUH


Senyum malu-malu milikmu adalah senyum paling teduh. Mata bulan sabit yang melengkung saat kau tertawa terasa lebih terang dari purnama. Udara di sekelilingmu sesejuk embun di waktu terpagi. Hari berhujan badai kau sulap menjadi hari di mana matahari begitu perkasa. Hatimu sejernih air yang mengaliri sungai-sungai di pegunungan. Tentu saja kau tak sebenderang  itu. Kau hanya sedang membuatku mendramatisasi semua kata-kata tentangmu.

Kesempatan berpapasan denganmu serupa berjumpa tanggal 29 Februari. Sekalipun bertemu, secepat angin tertiup, kau berlalu begitu saja. Jari-jarimu yang melambai ke arahku terasa seperti mantra yang menghanyutkan. Apakah kau menyadari bahwa aku tak hanya memiliki nama tapi juga rasa?

Sejujurnya, kau tidaklah seistimewa itu. Jika manusia adalah bintang maka sinarmu tidaklah terang. Seandainya manusia adalah payung, kau bukanlah yang sepenuhnya meneduhkan kala hujan. Kau hanya bintang biasa yang berkeliling mengitari duniaku. Kau adalah payung kecil yang yang ketika tak hujan terlipat rapi di dalam tasku. Tetapi aku tenang menjinjingmu dalam setiap langkahku. Aku bahagia menyalakan binarmu dalam hatiku. Cahayamu membuatku bisa melihat tanpa menyilaukan mata. Siapa bilang itu tak cukup?  

Terkadang orang yang kau cintai adalah yang paling sederhana sinarnya. Aku menaruh hati pada sinar yang menerobos sela-sela tirai jendelaku. Binarnya tak seterang cahaya-cahaya lainnya tetapi mengetuk sudut mataku membangunkanku dari tidur panjang. Sesungguhnya kau sesederhana sinar itu.

25 Sep 2013

INSOMNIA (2)



Adakah yang lebih terjaga di dalam hari
Dari batin yang kerap bercakap-cakap sendiri
Setelah arah,  aku kehilangan tujuan
Segala penjuru ku langkahi dan kabut terus memaksaku pulang
Tak habis aku berharap kau muncul dari tikungan di depan sana

Aku khawatir lampu jalanan terlalu hafal langkahku
Aku masih selalu berjalan di malam hari
Bersama irama parau laju yang berlalu lalang
Meskipun takut bayanganku sendiri lelah mengikuti
Batin yang bercakap-cakap sendiri
Lara dan rindu yang bertengkar sendiri
Pagi yang tiba-tiba datang sendiri

23 Sep 2013

JARAK 2

Kau telah selesai berkemas-kemas. Aku melihat sayap di punggungmu membentang. Ku dengar suara khas langkah kakimu yang sebentar lagi tak berpijak di sini. Di hari keberangkatanmu, aku masih mendengar dan melihat walaupun telah menutup telinga dan memejamkan mata. Aku tak lapar meskipun telah begitu lama tidak makan. Aku tak tertidur sekalipun telah terjaga beberapa malam ini. Aku takut saat aku terlelap, engkau menghilang. Kini aku menentang waktu agar tak berjalan maju. Dan kau tak sekalipun berucap selamat tinggal.

20 Sep 2013

SHADOW


Hujan adalah rasa yang tak pernah tuntas. Setiap hujan usai, masih ada air jatuh lain di masa mendatang. Hujan adalah derai yang retak bersembunyi. Sekuat aku merahasiakan tangis saat engkau berpendar bagai kilat di tengah hujan, aku menyimpan rapi hati yang sepi. Apakah aku telah kehabisan cara untuk tetap merahasiakan rasa? Aku khawatir batin yang terapung hanyut membentur kakimu. Bilamana hujan datang mengguyur telapak kaki dalam dekap dingin bulir-bulir air, aku takut rindu menampakkan diri begitu saja.

13 Sep 2013

ECHOES

Tak ingin kuingkari batin yang bersemarak melihat mata bulan sabitnya saat tersenyum. Lengkung matanya binar seakan tak satu pun mengganggu tawanya setiap hari. Bahkan jari-jarinya, punggungnya, bayangannya: semua menarik. Rambut, bahu, tangan, hingga telapak kakinya memesona. Setiap detailnya tiada tara, tiada dua. Dalam dirinya, senyum yang seharusnya sunyi menjadi bernada. Tawanya yang berirama membuat sekeliling menjadi hening seketika.

Di saat aku mencari jeda untuk tidak tersipu saat senyum malu-malu miliknya mengembang, dia seperti tak tertarik berbicara mengenai hati. Dia menawarkan cintanya untuk pengabdian batin. Dia mengulurkan tangannya untuk merajut mimpi bersama makhluk-makhluk mungil nan lucu. Dia merelakan raganya untuk kegiatan sosial. Dia. Bagaimana aku harus menjemput hatinya yang putih itu?

Benar kuakui karismanya membuat siapa pun mencuri pandang. Saat dia melintas, seolah dia menjinjing cahaya yang bependaran. Tutur kata yang renyah menggelegar di ruang sempit hati. Bagaimana pun aku ingin menemui hati yang tulus itu.

8 Sep 2013

GUGUR

In the Northen hemisphere, the beginning of the meteorogical autumn is on the 1st September. (Wikipedia)

Pagi hari di bulan September adalah pagi di mana aku enggan terbangun dan kembali memikirkan musim gugur. Kelopak-kelopak mawar runtuh karena lelah bertahan menjulang. Di musim ini duri-duri yang terbiasa bersembunyi menyembul. Badai yang menggulung lembar dedaunan bergemerisik mengusik. Jendela kamar terbuka lebar tetapi ruangan ini tetap terasa gelap. Matahari mengintip lembar-lembar rahasia di sela jemariku. Rupanya aku belum lelah memastikan huruf-huruf dengan pena hitamnya, berharap badai turut menghalaunya lenyap dari kertas  ini.

2 Sep 2013

SEPTEMBER



Aku tidak pernah mengira bahwa September yang selalu berjuluk ceria kini berganti lara. September ini aku mendengar kau berbisik tak yakin tentang rahasia yang kau pikir akan selamanya. Kau sekali lagi memastikan bahwa rahasia yang terendap begitu lama masih bisa bersuara. Dan malam kita berjalan bersama menitipkan sepucuk perpisahan.

31 Aug 2013

JARAK

Secarik kertas yang berkibar bebas di tangan kananmu seperti berpunggung sayap. Huruf-huruf yang tercetak di sana akan menerbangkanmu meraih angan. Tawamu yang renyah menggema pagi ini. Seperti selembar kertas itu, kakimu melayang ringan menjemput sesuatu yang dulu kerap kita sebut kebahagiaan.

28 Aug 2013

INSOMNIA

Adakah yang lebih terjaga di malam hari
Dari batin yang kerap berjalan mencari arah
Gundah yang menyangga kelopak mata
Dan sinar matahari telah berdamai
Pembaringan bukanlah penawar rasa
Rindu mengepung lelap
Senja yang selalu mengantarkan suara khas langkah kakimu
Berjalan bersisian denganmu malam itu
Ada rasa yang lupa terselipkan di antara
Bait-bait kata yang kita candakan

Malam ini aku berjalan sendiri sembari kembali berjanji
Mengungkap rahasia yang mendobrak-dobrak dinding hati

24 Aug 2013

LUGU 2


Kau masih saja menuliskan sesuatu di hatiku--tak putus-putus. Aksara terus-menerus berlompatan lincah dari batin yang lugu. Kau ibarat partikel riang berjingkatan dalam binar yang teramat terang. Meski kau hening semua pandang teralihkan oleh warnamu yang benderang. Kini, aku mengingat setiap larik bersama keluguan terbaik yang tersisipkan.

20 Aug 2013

REFRAKSI

Seperti namamu, warnamu begitu binar. Pancarmu adalah resonansi sinar yang melulu luput berpulang. Kerap batinku berdarah menahan laju biasmu. Aku harus pula tergesa menyangkal semarak tatap mata sendumu berbinar-binar di hadapnya. Caramu mengalihkan bola mata ke arahnya seperti gerak ombak pagi kala mentari terlelap. Caramu terdiam saat sinarnya berpendaran, caramu tertunduk menyangkar senyum karenanya. Lalu rindu yang ku bungkus berceceran di halaman.

Aku kesal melihatmu diam-diam menyinarinya. Aku kecewa kau mengendap-endap di sudut batin membiarkanku sempurna berputus asa. Tak henti kau membuat setiap helaan napasku berwarna kelam. Namun, tak satupun membuatku lebih kesal ketimbang perempuan yang tak jua menyadari sinar yang tak terbagi bersimpuh di hadapnya. Saat aku berdoa gelombang cahayamu merambat ke arahku, dia justru sibuk memantulkanmu.

31 Jul 2013

SINGGAH 4


Belum genap sebulan kau pulang tetapi aku telah berziarah untuk kesekian kali. Tak henti-henti aku menghampiri udara biru yang mengepungmu. Bayangan hitam putihmu mematung di hadapku dengan tatapan tak berkedip. Kakiku menapak tanah merah yang sama menunggui kau terlelap. Aku tak datang untuk menangis, menulis pesan, atau pun bercerita. Tak ada yang benar-benar ku lakukan kecuali membunuh segala lara. Hatiku masih sesenyap ketika kau dibaringkan. Langit tetap sesunyi kala kau menyangga bumi dalam dekapan.

Aku tahu seharusnya aku tak perlu terlampau sering singgah menemuimu.
Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .