KESUNGGUH-SUNGGUHAN

By nurimroatun - March 22, 2017

(First of all, pardon me for whining and grumbling so hard)

Pagi ini seharusnya saya mengisi sebuah acara Writing Workshop di Jakarta. Akan tetapi, kemalangan secara berturut-turut menghampiri saya. Saya kehujanan di tengah jalan menuju bandara kemudian balik ke kosan untuk mengambil jas hujan. Oleh karena itu, saya ketinggalan pesawat yang semula jadwalnya pukul 06:30. Saya membeli tiket baru penerbangan pukul 08:00 dan ternyata pesawatnya delay sampai pukul 11:30. Workshop yang seharusnya saya datangi itu selesai pukul 12:00. Saya seperti kehilangan semua tulang yang menyangga badan saya. Ada begitu banyak paku yang menusuk-nusuk hati saya. Dan di antara semua emosi yang kusut di batin, saya menguraikannya satu persatu.  

1. Saya Kurang Serius dan Tidak Bersungguh-Sungguh
supposed to be there
Pak Widodo, salah satu pembicara di workshop yang sama berkata bahwa saya harus memperbaiki kekurangseriusan saya. Sedari awal mengenal saya, Beliau berkata saya sering sedikit belum benar-benar siap ketika melakukan sesuatu. Saya disadarkan bahwa saya tidak seserius yang saya pikirkan. Saya telah jauh-jauh hari mempersiapkan workshop ini tetapi saya seolah tidak ingat bahwa hal yang jauh lebih penting adalah saya harus hadir di sana. Apalah artinya slide berlembar-lembar yang sudah saya buat, transkrip jawaban atas beberapa pertanyaan yang penting, serta persiapan lainnya kalau akhirnya saya tidak datang ke sana.

Ketidakhadiran saya di acara tersebut menampar saya bahwa ternyata usaha saya tidak menggambarkan kesungguh-sungguhan. Saya seharusnya berangkat lebih pagi agar tidak tertinggal pesawat. Atau bahkan menurut Pak Wid, saya seharusnya sampai di Jakarta setidaknya satu hari sebelum hari pelaksanaan workshop. Saya seharusnya menunjukkan keseriusan saya dengan mempersiapkannya sebaik mungkin--termasuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Well, today was one of the worst day in my life. Tak terhitung berapa kali saya menyalahkan diri saya sendiri sepagian ini. Penyesalan meletup-letup memenuhi ruang batin saya. Saya harus bersungguh-sungguh—dan itu tak hanya memerlukan tekad tetapi juga pembuktian. Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk lebih bersungguh-sungguh dalam mengusahakan yang saya impikan. Seperti yang Junghwan katakan dalam Reply 1988: "Keajaiban adalah produk kesungguh-sungguhan".

2. Kesempatan  Adalah Sesuatu yang Tak Boleh Disepelekan
All my life, I’ve been waiting for this kind of moment. Saya menunggu masa saya bisa membagi pengetahuan saya di bidang menulis. Tetapi saya melewatkannnya begitu saja seolah kesempatan ini begitu remeh. Padahal ini adalah hal yang benar-benar saya impikan sedari dulu. Lain kali, jika kesempatan yang saya inginkan datang kepada saya, saya tidak mau melewatkan setiap detail kecil yang memastikan jalan saya mewujudkan kesempatan itu. Sebab saya tidak pernah tahu apakah kesempatan serupa akan mendatangi saya di masa depan.

3. Memaafkan Diri Sendiri
Akibat sepagian merutuki diri sendiri, situasi hati saya tak kunjung stabil. Saya begitu ingin menyalahkan pihak-pihak yang menggagalkan agenda saya hari ini termasuk pihak maskapai dan tentunya diri saya sendiri. Entah sampai kapan saya akan menyesali kejadian ini. Tetapi seorang sahabat berkata kepada saya: maafkanlah dirimu dan tataplah agenda ke depan yang menunggumu. Saya tidak akan bisa melakukan apapun selama saya masih terus mencela diri sendiri. Meskipun saya membenci diri saya hari ini, saya akan berusaha memaafkannya. Smile again, im. Let's move on. 

4. Qodarullah
Sepagian tadi saya mengeluh kepada Allah “Ya Allah, I know You want to test me, but please don’t give me this kind of test.”

Kalau saya ingat-ingat lagi, kacau sekali pikiran saya pagi ini. Air mata tidak berhenti menetes meskipun saya sudah berusaha untuk berhenti menangis. Saya merasa sungguh-sungguh gagal dan akan terus-menerus gagal. Orang yang mengalami kegagalan terus-menerus selalu khawatir jika waktu hanya akan membawa duri yang menambah lukanya. Apalah saya ini sampai-sampai memprotes Allah. Maafkan saya ya Allah. Maafkan betapa sempitnya hati hamba memaknai hidup.

Apapun yang terjadi di dunia ini adalah ketetapan Allah. Saya percaya Allah tengah dan akan memberikan saya yang terbaik. Allah knows the best—as per always. Allah tengah menguatkan saya dengan kegagalan-kegagalan. Allah akan memberikan kejutan yang lebih baik dari yang saya pikirkan. Maa qodarullah khoir. Segala ketetapan Allah itu baik. Aku percaya pada ketetapan-Mu ya Allah. Aku percaya pada takdir seutuhnya. Jangan pernah biarkan hati hamba-Mu ini meragukannya barang sedikit pun. Tetapkan hatiku untuk mempercayai kebaikan-Mu dan kasih sayang-Mu, wahai Dzat yang Menetapkan Segala Sesuatu.

Ya Allah, saya mau terus menulis. Tolong berilah hamba kesempatan-kesempatan di bidang ini. Saya mau menunggu kesempatan baik datang kepada saya—sampai kapan pun itu. Terima kasih karena menggagalkan saya hari ini. Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk menjadi penulis yang lebih pantas untuk mengisi acara-acara serupa. Terima kasih ya Allah :)
-------
(Terminal 1B Soetta, 22032017)
image source: pinterest.com

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. tiba-tiba baca ini bulukuduk pada berdiri :)

    "Apapun yang terjadi di dunia ini adalah ketetapan Allah. Saya percaya Allah tengah dan akan memberikan saya yang terbaik. Allah knows the best—as per always. Allah tengah menguatkan saya dengan kegagalan-kegagalan. Allah akan memberikan kejutan yang lebih baik dari yang saya pikirkan. Maa qodarullah khoir. Segala ketetapan Allah itu baik. Aku percaya pada ketetapan-Mu ya Allah. Aku percaya seutuhnya. Jangan pernah biarkan hati hamba-Mu ini meragukannya barang sedikit pun. Tetapkan hatiku untuk mempercayai kebaikan-Mu dan kasih sayang-Mu, wahai Dzat yang Menetapkan Segala Sesuatu."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, ternyata Sulton baca blogku juga. Terima kasih sudah mampir :)

      Maa qodarullah khoir :)

      Delete