IMZDIARY 13032017: RECALLING

By nurimroatun - March 13, 2017

“Terima kasih atas usahanya mengingat saya, Pak” Saya membalas pesan Pak Tri Achmadi
“Mengingat iim tidak memerlukan usaha.” Jawab Beliau
Dunia seakan menghening begitu saja. Saya terdiam membaca selarik pesan dari seseorang yang selalu menyediakan dukungan penuh untuk saya. Malam ini mantan Kepala Bagian saya, Pak Tri Achmadi, menghubungi saya untuk membahas sebuah kegiatan yang saya akan dilibatkan di dalamnya. Ada haru biru yang memenuhi dada saya ketika orang-orang yang telah lama terpisah dengan saya masih mengingat dan ingin mengikutsertakan saya dalam agenda mereka. Saya kembali teringat titik awal saya melangkah memasuki dunia yang memperkenalkan saya dengan orang-orang hebat ini. Kini saya jatuh hati tanpa perlu berusaha—rasa betah berada di dunia ini telah menyatu bersama setiap butir darah.

Saya ingat ketika Pak Widodo pertama kali mengajak saya untuk bergabung dengan unit TI yang Beliau pimpin dengan alasan sederhana: “Bagian ini butuh perempuan, Im. Lihat, cuma ada Mbak Dema di sini.”. Apakah alasan seperti ini umum digunakan untuk merekrut seseorang? Hihihi

“Saya benar-benar bodoh Pak soal TI. Hihi.” Saya menanggapi tawaran tersebut dengan bergurau.

“Karena itulah kamu akan belajar. Di sini.” Pria yang kerap disapa Pak Wid itu menjawab. “Kamu mampu.” Lanjutnya.

Hati saya bergemuruh seketika. Saya suka ketika orang lain meyakinkan bahwa saya bisa melakukan hal yang saya pikir mustahil. Sejak saat itulah, tekad saya bulat untuk masuk bagian ini. Tentu saja ini bukan dongeng di mana semua berjalan mulus. Saya masih ingat ketika Pak Wid memarahi saya (dan saya dibuat menangis sepanjang perjalanan pulang ke kosan karenanya), saya ingat ketika Pak Wid menasihati saya. Di hari-hari awal semua kesulitan yang terjadi terasa mencekik. Saya masih ingat setiap kalimat yang menjatuhkan mental di masa awal saya berada di sana. Sekalipun saya tahu senior saya bercanda, hati saya tetap tergores mendengarnya. (Anyway, semua teman-teman saya di bagian ini baik banget kok. Tersinggung hanya bagian super minor dari hari-hari menyenangkan bersama mereka.)

“Masa kaya gitu aja nggak bisa, Im?”

“Kamu kan di sini sudah beberapa bulan, masa cuma setting domain aja belum bisa.”

Ada begitu banyak momen di mana saya merasa teramat bodoh dan tidak pantas berada di sana. Ada sangat banyak kejadian yang membuat saya merasa tidak berguna. Tetapi saya harus terus berusaha untuk tidak tertinggal jauh dari pegawai lainnya. Saya terseok-seok belajar dengan kecepatan siput. Kepercayaan yang diberikan oleh Pak Wid tidak boleh saya sia-siakan. Ditambah Kasubbag saya kala itu, Bapak Gatot, pun menyematkan tanggung jawab besar di pundak saya. Meskipun jarang berkomunikasi secara langsung, saya juga selalu mendapat energi positif dari Pak Yudhy ketika saya ikut berada di tim pengembangan aplikasi LP2P. Saya tidak boleh menyerah sekali pun saya ingin melakukannya.

Lalu Pak Wid mutasi ke Unit Audit TI dan digantikan oleh Pak Tri Achmadi. Seiring dengan pergantian Kepala Bagian, saya juga dipindah ke Subbagian yang dipimpin Bapak Yogi Ishwara. Pak Yogi yang tampak pendiam sesungguhnya sangat peduli pada bawahannya. Untuk kesekian kali saya merasa malu ketika Pak Yogi menyemangati saya untuk belajar ini dan itu yang semula terdengar demikian sulit. Saya sadar meskipun tidak terucap, Pak Yogi benar-benar ingin saya bisa melakukan hal-hal yang menakutkan bagi saya.
nemu foto tugas ospek masuk kantor: foto dengan pejabat di kantor.
Bersama Bapak Tri Achmadi. Such a memory :)
Ketika saya harus membahas Pak Tri maka ada setumpuk kalimat yang hendak saya utarakan. Saya kagum pada sosok sederhana yang berhati mulia ini. Beliau akan melakukan segala hal untuk memajukan para pegawainya. Beliau selalu menjadi yang terdepan untuk memastikan satu per satu bawahannya mendapatkan yang terbaik. Beliau menawarkan banyak kesempatan yang mulanya bagai mimpi bagi para stafnya. Beliau berlari dan mengajak orang-orang sekelilingnya ikut berlari meraih cita.

Mata saya sulit sekali menahan air mata ketika membicarakan orang-orang di atas. Ada begitu banyak ucapan terima kasih yang tidak sempat saya ucapkan untuk mereka. Terima kasih untuk selalu meyakinkan bahwa saya mampu sekalipun saya dungu. Terima kasih untuk mempercayai di saat saya tak memiliki apa-apa. Terima kasih karena tatapan kalian ketika melihat saya berusaha memberi saya kekuatan untuk berusaha lebih keras lagi. Saya malu untuk menyerah hanya dengan mengingat energi positif yang terus kalian tularkan kepada saya. Saya tidak ingin meragukan diri saya lagi sebab kalian telah meyakinkan saya. Saya akan berusaha sebaik mungkin agar suatu saat kalian dapat berkata “Sedari awal saya percaya bahwa dia bisa”.

Saat saya kembali ke kantor nanti dan jika saya tidak lagi bekerja di tim yang sama dengan kalian, tolong tetap bimbing saya. Saya rindu kalian. Sejak hari pertama saya melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu, saya terus merindukan kalian. Saya mengingat kalian tanpa perlu berusaha mengingat. Ingatan tentang orang-orang yang meyakinkan bahwa saya mampu adalah ingatan yang selalu mendapat tempat di pikiran. Because recalling doesn't require any effort. It is just there. Sampai bertemu 9 hari lagi di gedung yang dahulu pertama kali mempertemukan kita semua :)
-------
(Ya Allah, I'm extremely thankful for the privilege to have them around)
image source: quotesgram.com

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Replies
    1. Wah saya malu. Pak Tri ternyata tau blog saya :)
      Sampai bertemu 2 hari lagi Pak :D

      Delete