CAAGA CONFERENCE 2017 (PART 2)

By nurimroatun - November 09, 2017

with Mr. Yuliansyah
Di bagian ini saya akan menceritakan pengalaman saya mempresentasikan paper di CAAGA Conference 2017. Kalender menunjukkan tanggal 31 Oktober 2017. Hari keberangkatan saya ke Malaysia akhirnya tiba. Saya pergi bersama pembimbing saya, Pak Yuliansyah dan seorang dosen Unila yang papernya juga lolos, Bu Marselina. Setiba di Malaysia kami dijemput oleh panitia yang berasal dari kampus penyelenggara, Universiti Teknologi Mara (UiTM) karena status Pak Yuliansyah sebagai pembicara tamu (invited speaker). Tadinya saya udah ngebayangin naik bis atau LRT ke tempat conference ternyata rezeki dibimbing oleh peneliti terkenal, bisa ikut numpang. Hihihi. Tadinya juga saya mikir bakal bayar hotel berdua sama Bu Marselina. Rezeki saya lagi karena co-author saya, Prof. Nafsiah Mohamed (ketua jurusan akuntansi sektor public UiTM) ngasih saya kamar di Summit Hotel, tempat conference berlangsung. Alhamdulillah saya cukup mengeluarkan uang untuk tiket pesawat (yang kemudian diganti oleh 2 orang super baik yang selalu mendukung saya. I couldnt mention their names here but they have to know I always appreciate their kindness). Hotel, makan, akomodasi (selain jalan-jalan pribadi tentunya) selama conference sudah ditanggung. Maha baik Allah mempertemukan saya dengan orang-orang baik. .
Don't ask me why I adore Prof. Nafsiah Mohamed
Selain presentasi dari paper-paper yang lolos, acara juga dipenuhi oleh kegiatan-kegiatan seminar dan forum diskusi. Saya kebagian mempresentasikan paper saya di hari kedua (2 November 2017). And I want to tell you what did I feel about the presentation. Saya yang biasanya cukup tenang di setiap presentasi merasa nggak percaya diri di sana. Saya merasa kemampuan berbicara saya dalam Bahasa Inggris masih jauh dari harapan. Saya takut keliatan bodoh dan nggak fasih berbahasa inggris di hadapan orang-orang yang sangat fasih berbahasa Inggris. 

But in the end, as always, the show must go on, right?

Oh ya, ada satu kejadian yang membuat saya malu pada diri saya sendiri. Ceritanya saya menonton beberapa presenter yang mempresentasikan papernya di hari pertama. Dengan terbata-bata mereka berusaha menjelaskan dan menjawab setiap pertanyaan moderator (reviewer) dan penonton. I could clearly saw their efforts and how strong their determinations are. Saya yang merupakan presenter termuda di acara itu apa ya nggak malu gitu lihat bapak-bapak yang susah payah berusaha berbahasa inggris semampu mereka? Di situ saya ngerasa remah-remah aja gitu. Bukan karena saya nggak mampu, tapi karena mental saya kerap jatuh kalau saya nggak benar-benar merasa bisa. Bagi saya, remah-remah itu bukan orang yang nggak bisa tapi orang yang ngerasa nggak bisa sebelum mengusahakan yang terbaik. Terus kenapa kalau Bahasa Inggris saya nggak sefasih native speaker? Terus kenapa kalau grammar saya nggak sempurna? Terus kenapa?

Maka saya bertekad untuk mempresentasikan paper saya dengan percaya diri.
Tibalah waktu mempresentasikan paper saya. Segenap keraguan, kekhawatiran, ketakutan yang menyergap saya abaikan begitu saja. Saya pun melewati sesi presentasi dengan lancar. Alhamdulillah. Debut saya di konferensi internasional saya jalani dengan cukup baik. Saya beranjak dari kursi presenter dengan senyum sembari berdoa, “Ya Allah, semoga ini adalah awal dari kesempatan konferensi dan lolos jurnal lainnya di kemudian hari. Ya Allah, semoga saya teringat keberanian hati saya hari ini ketika saya berhadapan dengan ketakutan-ketakutan di masa depan.”
the speakers, presenters, and committees
Saya pun menutup pintu ruang presentasi dari luar dengan senyum haru. Badan saya masih dingin seolah beku oleh rasa gugup selama presentasi tetapi hati saya terasa hangat. Saya merasa Allah tengah memeluk doa-doa saya. Terima kasih ya Allah telah memampukan saya. Terima kasih ya Allah karena menguatkan hati dan menegakkan badan saya. Terima kasih ya Allah sebab menyadarkan hamba bahwa doa adalah satu-satunya permintaan yang tidak pernah berakhir sia-sia. Dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan doa hamba-Nya.

Hari itu saya teringat quote salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia teknologi, Marissa Meyer: “I always did something when I was a little not ready to do. I think that’s how you grow. When there’s that moment of ‘Wow, I’m not really sure I can do this’ and you push through those moments, that’s when you have a breakthrough.” (Aku selalu mengerjakan sesuatu ketika aku sedikit tidak siap. Aku pikir begitulah kau tumbuh. Ketika terdapat momen 'Wow, aku tidak yakin aku bisa melakukannya' dan kamu tetap bergerak melalui momen tersebut, saat itulah kamu melakukan terobosan."). Saya selalu jatuh hati pada quote tersebut tetapi di hari itu, saya tidak hanya jatuh hati. Saya mengalami dan mengamini.
-----
(Saya akan menceritakan cerita jalan-jalan di KL di bagian ketiga)
Read also: CAAGA Conference 2017 (Part 1)

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Actually that is 1st my presentation at international journal and i think before that is very dangerous but when i start to present, i just talk with whatever i know and i can. Success to you mba nur and be great fiscus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pardon me but I think we knew each other, right? We met at CAAGA, right? Thank you for visiting my blog. I wish a great amount of success for you too :)

      Delete