APA YANG SAYA PELAJARI DARI LOMBA BACA PUISI HORI KE-74

By nurimroatun - November 19, 2020

source: pinterest.com
 

Hello, there! I hope you all are healthy and sane :)

Sudah lama rasanya ingin bercerita soal dunia membaca puisi tetapi saya baru sempat menuliskannya sekarang. Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu saya mengikuti Lomba Baca Puisi dalam rangka Peringatan Hari Oeang Republik Indonesia ke-74. Saat itu, sebenarnya saya sedang tenggelam mengurusi kegiatan Kompetisi Data Analytics Kemenkeu (di mana saya ditunjuk untuk menjadi project manager acaranya). Kompetisi itu menguras hampir seluruh waktu dan tenaga saya sehingga saya awalnya tidak berpikir untuk mengikuti lomba bidang yang telah saya pelajari sejak SMP itu. Tetapi di suatu malam, tiba-tiba saya berpikir: kira-kira saya bakal nyesel nggak ya ini berlalu begitu saja?

Sesuai yang saya tuliskan beberapa waktu yang lalu: saya berjanji untuk tidak meremehkan peluang yang datang dan memanfaatkannya sebaik mungkin. (bisa dibaca di: Apa yang Saya Pelajari dari Junghwan: Keinginan untuk Memberikan Lebih Banyak Usaha untuk Sesuatu)

Hingga akhirnya, malam itu, setelah menyelesaikan persiapan final kompetisi data analytics, saya membulatkan tekad untuk merekam video pembacaan puisi. Dan inilah beberapa pelajaran yang saya petik dari lomba yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Kemenkeu tersebut:


1. Maybe the best person/thing is already with you

Salah satu langkah awal yang dilakukan ketika seseorang akan mengikuti lomba baca puisi adalah memilih puisi yang akan dibacakan. Pilihan pertama saya jatuh pada puisi “Maut Tersenyum” karya Joko Pinurbo. Hanya saja, puisi tersebut terlalu pendek yang menjadikannya tidak ideal untuk dibacakan dalam lomba sebab tidak banyak ruang yang bisa dieksplorasi. Maka saya menghabiskan malam itu membaca ulang beberapa buku puisi yang saya sukai. Perkelanaan itu mengantarkan saya kembali pada puisi “Maut Tersenyum” selaiknya ujung pengembaraan Santiago dalam novel The Alchemist (karya Paulo Coelho) adalah tempat awal dia memulai perjalanan. Saya kembali ke puisi pertama yang saya pilih setelah membaca lebih dari 100 puisi!

Manusia memiliki konsepsi bahwa mereka bisa menemukan sesuatu yang lebih baik dari yang sudah di tangannya. Namun, acapkali yang terbaik sebenarnya sudah ada di dekat kita. Saya menyadari bahwa tidak ada puisi yang benar-benar ideal untuk saya bacakan dalam lomba ini. Selalu saja ada kurangnya: range emosinya tidak terlalu luas, terlalu panjang, terlalu pendek, tidak sesuai tema lomba, dsb. Pada akhirnya, saya hanya perlu memilih satu yang menurut saya paling tepat dan memperlakukannya sebaik mungkin. Mungkin demikian pula kehidupan: barangkali pilihan terbaik memang sudah bersama kita tetapi kita luput menyadarinya, lupa merawatnya sebaik mungkin. 

Meski puisi itu pendek saja tetapi jika saya bisa memanfaatkan setiap barisnya dengan sebaik-baiknya, saya percaya saya bisa menyentuh perasaan yang mendengarkannya. Maka saya pun akhinya membacakan sajak sang penyair kelahiran Sukabumi tersebut.

 

2. Maybe the best choice is to give it a try

Berhubung drama Start Up sedang cukup ramai diperbincangkan, saya akan mengambil analogi darinya mengenai pentingnya mencoba. Ada sebuah pola umum dalam drama Korea: perbedaaan first lead dan second lead terkadang sebatas soal keberanian mencoba. Di saat second lead didera begitu banyak keraguan untuk menyatakan perasaannya, first lead sudah melakukan banyak hal untuk mewujudkan keinginannya. Perkara meraih sesuatu kadangkala sesederhana apakah kita mau mengusahakannya atau tidak. Lalu bagaimana jika sesungguhnya kita akan bertakdir baik tetapi memilih untuk tidak mengambilnya? Maka selagi mungkin, barangkali pilihan terbaik adalah mencoba. 


3. Maybe the best attitude towards uncertainty is nothing to lose

Ketika mengirim video pembacaan puisi, saya menyadari betapa banyak peserta yang mengikuti lomba ini dengan video yang bagus-bagus pula. Saat itu, sembari tersenyum saya berkata “Yang penting sudah mencoba ya. I expect nothing from this.”. Dalam setiap lomba yang diikuti, saya pasti berharap meski sedikit tetapi kali ini saya sungguh tidak mengharapkan apa-apa. (Sekedar melihat diri saya tidak membiarkan peluang berlalu begitu saja sudah membahagiakan hati saya). Melihat betapa kecil kemungkinan untuk terpilih, saya melupakannya begitu saja dan kembali berfokus mengurusi kompetisi data analytics.

Hingga suatu malam, saya dikabari bahwa saya adalah salah satu finalis lomba tersebut. Waktu sontak terasa membeku bersama air mata yang mengalir sunyi. Ketiadaaan ekspektasi terasa begitu hangat menyelimuti hati: saat kalah, saya tidak akan kecewa dan saat mendapat kabar baik, saya bisa begitu banyak mensyukurinya.

Saya ingin di masa depan, setelah mengusahakan yang terbaik, dapat bersikap nothing to lose saja seperti saat itu.

 

4. Maybe the best feeling comes unexpected

Episode nothing to lose tidak berhenti di pengumuman finalis. Ketimbang berfokus menjadi juara, saya mensyukuri sesuatu yang lain berkat ucapan seorang sahabat: “Masuk 5 besar, terlepas apapun hasilnya nanti, adalah sebuah anugerah. Kesempatan ditonton Bu Menteri yang adalah salah satu juri babak final itu saja sudah menjadi hadiah buatmu.”. Inilah ucapan yang membuat saya berpikir “Apapun hasilnya nanti, saya sudah mendapatkan banyak hal baik kok. Menjadi finalis dan ditonton Bu Menteri adalah hadiah buat saya.”. Sesederhana itu. Saya tidak berani menaruh harapan sebab memang kerap kecewa di masa lalu. Maka saya menghargai apa yang sudah saya dapatkan dan tidak berangan terlalu tinggi.

Dan saat pengumuman tiba, saya keluar sebagai juara II. Hasil itu kembali membuat saya termenung menahan air mata. Karena tidak menduganya, hati saya terbanjiri oleh kebahagiaan yang datang mendadak dan memenuhi seluruh ruangnya. Pikiran saya memutar kembali ingatan malam di mana saya tidak tidur untuk berulang kali merekam dan mengedit video pembacaan puisi ini. Haru.

Saya bersyukur saya mencoba dan menjalaninya dengan hati yang tenang tanpa beban dan ekspektasi. Saya akan selalu mengingatkan diri saya untuk menjalani kehidupan dengan sikap demikian: untuk tidak takut mencoba, mengusahakan yang terbaik tetapi tidak berbebani oleh harapan akan hasil yang menggembirakan. Ketika saya mencoba, saya berharap tidak memiliki hati yang sarat oleh keinginan akan hasil yang harus berpihak pada saya. Bahkan jika hasilnya tidak menyenangkan, saya ingin tetap mencoba lagi di kemudian hari. 

Sebab kita hanya dapat berusaha. Itu tugas kita. Hasilnya? Hanya Allah yang berhak menentukan. Alhamdulillah.

------

(I write this as a small reminder for my future self whenever I’m too afraid to try.)

  • Share:

You Might Also Like

2 comments