SAWANG SINAWANG

By nurimroatun - October 04, 2021

image source: uleadinc.org

Dalam bahasa Jawa, terdapat falsafah sawang-sinawang. Sejatine urip mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang. (Sesungguhnya hidup hanyalah saling memandang, maka jangan hanya memandang yang terlihat)

 

Kemarin, tiba-tiba saya teringat salah satu novel Tiongkok yang saya suka berjudul “Silent Separation” karya Gu Man. Selaiknya novel lain, novel ini juga “menyibukkan” kita dengan samudra perasaan dan setumpuk kejadian yang dialami tokoh utama. Uniknya, novel ini memberikan epilog berupa penyajian cerita dari perspektif tokoh lain—sesuatu yang membuat saya termenung kala membacanya. Pemikiran yang berkelebat kala itu: seandainya kita mengetahui persis kisah dari sudut pandang lain, perasaan hati yang lain, gejolak pemikiran orang lain, apa yang harus dilalui jiwa lain—masihkah kita berpikir yang sama?


Kenyataannya sudut pandang adalah instrumen penting dalam mewujudkan sebuah cerita fiksi. Sudut pandang juga adalah perangkat esensial untuk memahami kehidupan dengan lebih arif.

 

Di saat kita terpaku pada perasaan kedua tokoh utama yang bertemu lagi setelah 7 tahun terpisah, sudut pandang lain berkisah terguncangnya seseorang atas kejadian tidak terduga itu. Usahanya menunggu seseorang berubah perasaan setelah ditinggalkan 7 tahun lamanya mendadak tidak berarti apa-apa ketika sosok itu kembali hadir. Pembaca, termasuk saya, sibuk ikut terbunga-bunga atas pertemuan dramatis itu sampai akhirnya saya membaca kalimat ini di epilog:

 

Waiting was not frightening. What was frightening was not knowing when it would end.

 

Sementara di sepanjang cerita pembaca menganggap dia sebagai tokoh sampingan yang “mengganggu” hubungan tokoh utama, kita sering lupa bahwa setiap orang setara di hadapan perasaan. Dia juga seseorang yang memiliki perasaan dan sama seperti kedua tokoh utama yang menunggu 7 tahun untuk bertemu, tokoh ini juga selama 7 tahun berharap penantiannya berakhir. She is perfectly allowed to love the story’s male lead protagonist yet here we are, the readers, act like she shouldn’t be there. 


Membaca cerita dari perspektifnya memberikan gambaran betapa banyak kisah yang tidak kita ketahui secara lengkap tetapi sudah "terlanjur" kita tarik kesimpulannya. Dalam hidup, barang tentu saya sering mengambil keputusan berdasar sudut pandang saya yang niscaya sempit saja. Hidup hanyalah soal saling memandang dan celakanya, di sebagian besar waktu, saya hanya bisa memandang yang terlihat lalu merasa cukup memiliki informasi untuk memutuskan dengan bijak.

 

Dalam hidup, terlebih di era media sosial, kita tidak terhindar dari mengambil asumsi, membandingkan, lalu menyimpulkan. Kita membandingkan highlight reel orang lain dengan behind the scenes kita (dan berasumi highlights tersebut mewakili keseluruhan cerita). Kita mengkomparasi permulaan kita dengan perjalanan seseorang yang sudah setengah jalan (berasumsi orang tersebut tidak melewati kesulitan apa-apa). Kita merutuki hari-hari bergelombang yang begitu berbeda dengan perjalanan mulus orang lain (padahal barangkali orang tersebut justru berpendapat hidup kita lebih mudah). Atau sebaliknya, terkadang kita menghakimi hidup orang lain yang berbeda dari umumnya atau sekadar lain dari yang kita jalani (tanpa sepenuhnya tahu apa yang dihadapi). Acapkali kita merasa seharusnya seseorang memilih jalan lain hanya karena kita merasa lebih baik (hingga muncul frasa "netizen yang mahabenar").  

 

Memahami keberadaan sudut pandang mengajarkan saya bahwa hidup orang lain tampak sempurna karena bukan kita yang menjalaninya. Sebaliknya, pilihan hidup orang lain juga terlihat salah karena bukan kita yang ada di posisi itu. Kita berpikir hidup orang lain jauh lebih baik karena bukan kita yang berjalan di sepatu itu. Kita merasa berhak menghakimi jiwa lain karena melihat hanya yang terlihat--yang barangkali tidak relevan merepresentasikan.

 

Maka saya pun mengingatkan diri saya akan dua hal:

1. Saat saya merasa pilihan orang lain terasa tidak seharusnya demikian: “Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Be kind. Always.”

2. Saat saya merasa hidup orang lain terasa indah dan hidup saya begitu berkerikil: “Don’t compare your behind the scenes with someone else’s highlight reel.” (Steven Furtick)

 

Saya tidak tahu persis apa yang orang lain jalani maka saya pun berhenti nyawang untuk membandingkan sebab tentu bahkan setelah nyawang pun, saya tidak mengerti banyak. Pertanyaannya: untuk apa saya menggunakan pengetahuan yang sedikit itu untuk menghakimi hidup saya maupun hidup orang lain?


Betul adanya: Sejatine urip mung sawang sinawang.


Rencang panjenengan,

Iim


  • Share:

You Might Also Like

0 comments