HOT CHOCOLATE, COLD REALITY, AND WARM YOU

By nurimroatun - December 14, 2017

Part 1: Hot Chocolate Surprise 
source: freepik.com
Sebuah cup putih berisi coklat hangat dengan label namanya tergeletak manis di meja. Kinan menengok ke seluruh penjuru ruangan kerjanya barangkali menemukan sosok yang membawa minuman favoritnya itu ke sini.

“Kenapa, Nan?” Kedatangan Airlangga mengagetkannya.

Dia menoleh ke arah teman sedivisi yang kini berdiri di belakangnya. Tak seperti biasanya, Airlangga tampak sedikit berantakan seolah dia berlari kencang menuju kantor. Ada bercak cokelat di kemeja putihnya. Dia tersenyum sebab merasa berhasil menemukan sosok yang membuatnya penasaran.

“Do you join 'run to work' campaign or what? And why your shirt got stained?” Kinan menunjuk bercak kecil berwarna cokelat. Dalam hati dia tertawa kecil menyadari Airlangga yang selama ini terkesan cuek menunjukkan sisi lain kepadanya.


“Oh ini? Gue sarapan cereal dan karena keburu-buru jadi ya gini. Gue harus nemenin bos rapat. Duluan ya.” Airlangga berjalan cepat keluar ruangan dengan setelah meletakkan tasnya dan meraih buku agenda.

Ah, ternyata Airlangga tetap saja dingin dan sibuk berlarian ke sana-kemari. Mana mungkin dia sempat untuk berhenti dan memperlihatkan kepedulian lebih kepada Kinan meskipun sebatas perhatian seorang teman. Dia pun bergegas mencoret Airlangga dari daftar yang dicurigainya. Dia mengalihkan pikirannya membayangkan wajah Pak bos yang galak. Hampir seperti pagi-pagi yang lain Pak bos rapat pagi, gumamnya. Dan seperti biasa sang staf favorit, yang meja kerjanya bersebelahan dengan Kinan, menemani. Ah, kenapa pikirannya kembali ke Airlangga. Kinan mengarahkan pandangannnya kembali ke arah coklat hangat di mejanya. Dia berusaha menebak siapakah sosok di balik kejutan di pagi hari ini. Jari-jarinya sibuk mengetuki meja sembari berpikir. Diraihnya gelas air minum di mejanya sembari mengecek ponselnya.

Nan, gue lagi di kantin. Mau nitip coklat sachet?

Kinan hampir saja tersedak air minum.

Kea, ngagetin aja

Lah bknnya kl gue nggak nawarin lo ngamuk? Hoho. Lo knp?

Gue nitip ya. Satu pak.

Nggak sekalian tokonya? Gue yang bayarin deh.

Senyum mengembang di wajahnya. Becandaan sebasi apapun dari sahabat terbaiknya ini selalu berhasil mengangkat suasana hati. Kinan mulai menyalakan komputer dan mengetik proposal Color Run yang rencananya akan diselenggarakan kantornya. Tanpa disadarinya satu persatu teman-teman sedivisinya sudah mulai berdatangan. Semua terlarut mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Pekerjaan yang kini dikerjakan mendistraksi pikirannya hingga dia lupa pada keingintahuannya tentang pengirim cokelat hangat pagi ini.

“Nan, ini pesenan lo. Ada lagi yang bisa dibantu?” Kea menirukan gaya berbicara Kinan. Yang diajak bicara hanya tersenyum. “Dan tumben lo sempet beli a cup of hot chocolate. Emang udah nggak sibuk banget ya sampe sempet mampir beli? Lo kan ke kantin aja nitip.” Kea terkekeh.

“Masih banyak sih kerjaan.” Kinan menunjuk time-schedule divisi kreatif dan humas, divisi tempatnya bernaung. “Ini entah siapa yang naruh di meja gue.”

“Lo nggak curiga gue yang baik hati ngasih itu di meja lo pagi ini?” Kea menunjuk ke arah dirinya sendiri.

“Nggak lah.” Jawab Kinan spontan. “Karena kalau lo ngasih pasti ngasihnya cokelat sachet. Ya kan?”

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Hampir-hampir Kea lupa hari ini adalah deadline layout majalah. Bercanda bersama Kinan membuat putaran waktu tak terasa.

"Nan, tapi jangan hapus gue dari daftar tersangka ya. Siapa tahu beneran gue yang ngirim cokelat itu." Nada bicaranya berbeda dari biasanya. Kinan mengangkat bahunya seolah mengisyaratkan tidak akan tertipu oleh pria yang dulu merupakan teman sekampusnya itu. Kea berjalan kembali ke ruangannya.

***

Airlangga menghela napas panjang berkali-kali. Kinan yang meja kerjanya bersebelahan dengannya mau tak mau menoleh dan memperhatikan wajahnya rekan kerjanya ini.

“Lang, are you okay?” Kinan menghentikan pekerjaannya mengetik kemudian mengarahkan kursinya ke Airlangga. “Something is bothering you mind? Job-related?” Kinan kembali bertanya.

“Sadar nggak sih kalau kita harus kerja keras banget. Brand majalah kita udah hampir kesaing majalah sebelah.” Airlangga menegakkan badannya yang semula bersandar di kursi. “That’s our job.”

Kinan mengerutkan keningnya. Bukan karena menyangkal pernyataan Airlangga tetapi karena begitu seringnya Airlangga berbicara mengenai pekerjaan di saat prediksinya dia akan berbicara mengenai masalah pribadi. Sekalipun sudah menebaknya sedari awal hal klise ini masih saja mengherankan.

“Jadi apa langkah terdekat yang harus kita lakuin?” Kinan berusaha membaca arah obrolan Airlangga.

“Tingkatin citra majalah kita yuk dengan rapiin web kita misalnya.” Ujar Airlangga dengan semangat.

“Seberapa banyak itu akan berpengaruh ke pembaca? Bukannya orang lebih nyari konten ya? Kalau gitu kenapa nggak kita bilang ke anak-anak redaksi aja.” 

“Let just start it with us. Nanti aku coba ngomong ke Pak bos deh soal peningkatan kualitas konten.”

Kinan mengangguk tanpa tersadar akibat tatapan mata Airlangga begitu persuasif. Tanpa berlama-lama seseorang pasti bisa menebak kalau lelaki ini bekerja sebagai humas hanya dengan melihat lingkaran matanya.

“But I’m not a programmer. You can ask yourself for that.” Sahutnya tanpa nada bersalah. Airlangga yang sedang berwajah serius tiba-tiba tertawa.

“I mean, our division, Kinan.” Airlangga kembali serius “You can start by making engaging events to promote our magazine. And I will do my parts.”

Caranya tersenyum, caranya menyebutkan nama orang lain, dan cara berpikirnya. Alangkah khasnya perpaduan ini. Aku tak heran bila beberapa perempuan diam-diam menaruh rasa padanya. Ravindra Airlangga, lelaki yang memilih untuk tidak mempunyai akun sosial media selain whatsapp dan e-mail tetapi memegang semua sosial media majalah. Lelaki yang tidak pernah mau dipanggil Ravi atau Indra itu adalah seseorang yang keseriusannya bekerja saja mampu meyakinkan orang tua mana pun untuk menyerahkan anaknya jika dia datang mempersunting. Airlangga yang di matanya kau bisa melihat nyala kecintaan pada majalah ini, lelaki yang kau pun bingung harus mendefinisikannya sebagai dingin atau hangat.

“Lo suka cokelat hangat nggak sih, Lang?” Entah darimana asalnya pertanyaan ini muncul di kepalanya.

“Bukannya lo yang suka?” Airlangga masih menatap layar komputernya.

Ah bagaimana mungkin Airlangga tidak tahu. Setiap pagi Kinan menyeduh cokelat sachet dengan wajah sumringah. Setiap pagi pula Airlangga harus menghirup wangi minuman favorit Kinan itu. Bagaimana mungkin dia tak tahu.

“Kinan, Boleh bicara sebentar?” Sebuah suara dari arah pintu ruangan mengalihkan pandangan hampir seisi ruangan. Tentu saja kecuali yang memakai headphone.

Kinan mengarahkan kursinya ke arah sumber suara. Tak tertinggal Airlangga yang serius menatap layar pun mengalihkan pandangannya ke arah yang sama. Kinan berjalan mendekat sembari membawa senyum yang otomatis mengembang di wajahnya. Musik lirih yang mengalun di ruangan mengiringi langkahnya.

“Ada apa Mas Satya?”

“Hari ini udah minum berapa cangkir cokelat sampai kamu kelihatan bahagia banget?” Satya tersenyum hangat.
----------
So guys, which team you’re rooting for? #teamKea, #teamAirlangga, or #teamSatya?

  • Share:

You Might Also Like

12 comments

  1. Replies
    1. Hey #TeamKea over there, I'm sorry not sorry bout the ending because eventually I've gave a clear clue in part 2 :)
      I understand why you became #teamKea though: he's such a caring, funny, and thoughtful best friend. But I, for some reasons, want him not to be romantically linked to Kinan in this story :)

      Delete
  2. Replies
    1. Yakin banget Mbak Dian mau dukung yang sok-sok nggak peduli gini? Di dunia nyata kayanya yang kaya gini bukan seleramu (atau sebenarnya justru seleramu banget?):p

      Delete
    2. Duh ketauan.. Perasaanku cenderung biasa aja ketika ketemu orang kaya mas satya.. aku suka kebersamaannya, aku jg suka hangat sikapnya.. Tapi hatiku ngga bergetar melihat senyumannya ataupun teduh matanya saja *ea

      Delete
    3. Hahaha. Curhaaaat.
      Tapi aku seriusan merasa gagal menggambarkan karakter Mas Satya. Aku sebenernya merencanakan dia jadi "the ideal type, the crush, the smart guy, the most eligible bachelor in the office" seperti disebutkan di part 3 tapi aku kurang dalem ngebahas karakter ini di tulisan :(
      Aku pengen pembaca dapet gambaran how sweet and lovable he is tapi nggak berhasil kayanya. Next time I'll write better insyaAllah.

      Delete
  3. Replies
    1. Hello bestieeee
      Aku tahu kamu bakal dukung siapa sedari awal. Hohoho. Cukup cari siapa yang tsundere.

      Delete