TIPS UJIAN CERTIFIED INTERNAL AUDITOR (CIA) (BAHASA VERSION)

By nurimroatun - November 28, 2020

 

source: pabu.com.ua

Setelah rentetan 5 ujian, saya akhirnya memiliki gelar CIA di belakang nama saya. WAIT! Lima ujian? Hanya ada 3 bagian dalam ujian CIA bukan? Ya. Tetapi saya di sini dengan kisah kesuksesan dan kegagalan dramatis yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi siapapun sebelum mengambil ujian CIA :)

 

Di tahun 2018, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti training CIA Review tetapi awalnya tidak berpeluang untuk mengikuti ujian (cerita selengkapnya dapat dibaca di Days of Badr and Uhud). Tetapi mahabaik Allah yang kemudian membukakan pintu kesempatan saya di tahun selanjutnya. Saya pun mempersiapkannya sebaik mungkin dengan mempelajari materi-materi yang akan diujikan. Perjalanan menyelesaikan 3 parts ujian CIA itu dimulai di bulan Maret 2019 dan berakhir di November 2020 melalui 5 ujian (1x ujian part 1, 3x ujian part 2, dan 1x ujian part 3). Berikut adalah beberapa tips yang bisa saya bagikan bagi teman-teman yang akan mengikuti ujian CIA:

 

1. All hail Gleim! (And thank God test banks exist!)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Gleim adalah pegangan utama sebagian besar kandidat CIA. Gleim CIA Review dan Test Bank adalah 2 hal yang saya pelajari terlebih dahulu sebelum merambah materi lain. Pastikan untuk mendalami materi dan bank soal dari Gleim secara serius karena keduanya memberikan pondasi keilmuan yang memadai untuk ujian CIA. Selain itu, saya juga mempelajari buku CIA Review dari IIA serta bank soal yang saya temukan di internet. Semakin banyak soal yang kita pelajari secara tidak langsung akan mengokohkan pemahaman kita tentang ilmu audit internal. Saya masih dapat mengingat hari-hari di mana saya mempelajari ribuan soal yang tersedia di bank soal ujian CIA part 3. Otak saya berontak tetapi perjalanan sulit itu ternyata memberikan hasil yang sepadan. You know in the end exam is also about your willingness and commitment to put a lot of efforts. Great things take time--please embrace the process :)

 

2. Pahami filosofinya

Saya paham betul godaan untuk merasa cukup dengan menghapal semua materi tetapi dalam banyak kesempatan, ujian CIA tidak hanya menguji pemahaman dasar tetapi juga kemahiran (proficiency) dari seorang kandidat.

Sekali lagi saya tahu ini kedengaran basi tetapi kita harus sungguh-sungguh memahami materinya. Maksud saya adalah, saat mempelajari materinya, jangan grambyangan saja (what is grambyangan, im? Haha). Bahan-bahannya harus benar-benar dipahami, dicerna, diresapi sampai menjadi bagian dari darah dan tulang kita (oke, ini hiperbola). Jadi pas kita membaca soal ya coba pahami maksudnya. Jika saya bertemu kasus seperti ini, saya harus ngapain? (dan pahami alasannya. Jangan hanya dihafal). Kalau posisi saya seperti ini, apakah keputusan terbaik yang saya ambil? (dan apa filosofi di baliknya). Haruskah saya ngadu ke board? Haruskah saya diskusi cantik dulu dengan senior management? Haruskah saya lari ke hutan kemudian ke pantai? *the last one is a joke. You don’t need to run. Just continue your study session :)


NB: 

1. Lekatkan dalam pikiran kita bahwa tata kelola-risiko-pengendalian adalah hal yang paling diperhatikan oleh auditor.

2. Kegagalan yang saya dapatkan di ujian part 2 dimulai karena lemahnya pemahaman mengenai praktik audit dunia nyata. Seiring berjalannya waktu, ketika saya sudah mendapat pengalaman yang cukup, saya akhirnya mendapatkan perspektif yang benar.

 

3. Kaitkan dengan pengalaman di dunia nyata

Berhubung salah satu prasyarat mengikuti ujian CIA adalah pengalaman sebagai auditor internal, tentu kita punya cerita pribadi yang bisa dikaitkan dengan materi. Misal, ketika mempelajari peran CAE, saya membayangkan Inspektur di tempat saya bekerja. Saat bertemu dengan dilema, saya memikirkan sikap apa yang biasanya diambil team leader atau audit supervisor saya saat menjalankan tugas audit. Mengaitkan materi yang dipelajari dengan dunia nyata membuat hal tersebut lekat di ingatan.


(Saya terbantu sekali karena bekerja di unit audit internal sebuah kementerian yang sudah menerapkan praktik terbaik sehingga saya familiar dengannya. Terlebih lagi saya bekerja dalam tim yang leaders-nya adalah pemegang CIA juga—yang menerapkan pengetahuan mereka sebagai CIA dalam keseharian. Itulah mengapa mudah bagi saya untuk mengaitkan praktik yang diwajibkan/disarankan oleh IIA dengan kisah pekerjaan saya. Tetapi jika pun tempat bekerja teman-teman belum seideal itu dalam menerapkan praktik audit internal, kalian tetap bisa membayangkan: oh jadi seharusnya begini).


4. Ketelitian adalah koentji

Mengerjakan 100/125 soal dalam 2-2,5 jam tentu membutuhkan energi dan konsentrasi yang tinggi. Itulah sebabnya mudah bagi kita untuk kehilangan fokus saat membaca soal, khusunya soal yang panjang. Belum lagi, banyak soal yang mengecoh jika kita tidak hati-hati membacanya. Trik yang saya gunakan adalah berusaha mengerjakan secepat mungkin agar punya waktu untuk mereviu ulang jawaban. Dengan membaca soal 2x, ketidaktelitian di saat pengerjaan pertama akan terungkap. Kenapa nggak mending baca pelan-pelan sih, im? Karena kadang ada pengetahuan yang kita dapatkan sembari mengerjakan soal yang berguna dalam pengerjaan soal sebelum-sebelumnya. Itulah mengapa saya adalah tim kerjakan-cepat-lalu-review-all :)

 

5. Memiliki mindset yang tepat

Ujian juga adalah perkara sikap mental. Setelah 3x sukses dan 2x gagal, saya sadar pembeda dari kisah manis dan pahit itu adalah mindset saya terhadap ujian yang saya hadapi. (Sebagai informasi, saya mengambil ujian part 2 sebanyak 3 kali. Kedua kegagalan tersebut memberi saya nilai 580-an yang artinya saya hanya kurang dari 20 poin dari kelulusan). Terdengar kontradiktif sih tapi penting untuk bisa bersikap optimistis sekaligus siap atas kegagalan. Kita perlu berdiri tepat di tengah dua kutub tersebut. Bagi yang tidak lulus di percobaan perdana, juga penting untuk menjaga motivasi diri dan kembali berdiri setelah gagal.


Di ujian part 1, saya tidak membebani diri saya dengan ekspektasi karena tahu banyak orang gagal dalam ujian ini. Saya lulus. Setelah hasil baik itu, saya menjadi percaya diri pasti akan lulus lagi dan membebani diri untuk ujian part 2. Saya kemudian gagal. Di ujian part 3, berkaca dari kegagalan di part 2, saya kembali bersikap nothing to lose. Saya berhasil. Di ujian ulang part 2, sebab kesuksesan di part 3, saya lagi-lagi membebani diri harus lulus. Saya justru mendapat yang sebaliknya. Dan akhirnya, di ujian ulang kedua, setelah terpukul kegagalan, saya mengusahakan yang terbaik tetapi tidak membebani hati saya dengan keharusan untuk lulus. Pada akhirnya, ujian itu membawa saya resmi menjadi CIA.


Kesamaan dari 3 ujian yang akhirnya berbuah manis adalah saya mengerjakan dengan tenang sebab tidak terbebani mindset “saya nggak boleh gagal”. Akibatnya, saat ketemu soal yang nggak familiar atau nggak tahu jawabannya, saya tidak panik. Seolah pikiran saya berbisik: "Kamu manusia. Tentu saja kamu boleh gagal. Yang terpenting adalah mengusahakan yang terbaik lalu bersiap atas apapun hasilnya."


6. Berdoa

Saya tidak akan lelah mengatakan ini tetapi pada akhirnya, Allah yang menentukan hasilnya. Berdoalah yang banyak agar perjalanan kita membawa kita ke tempat yang baik.


Demikian beberapa tips dari saya. Semoga membantu untuk para kandidat CIA di luar sana. Semangat ya. Semoga berhasil. Oh ya, dipersilakan untuk menghubungi saya jika ingin mendiskusikan persiapan ujian CIA kalian. Saya akan mencoba membantu semampu saya. Semangat!

----

English version: Tips to Pass Certified Internal Auditor (CIA) Exam

  • Share:

You Might Also Like

8 comments

  1. Terimakasih Bu untuk infonya, saya mau tanya terkait dengan pembelian study material di GLEIM, dia hanya menerima paypal gimana caranya ya Bu? dan untuk pendaftaran tesnya di mana ya? apakah kita harus tau jadwalnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak, jawabannya sudah dikirim via DM instagram ya. Oh ya, terkait pendaftaran tesnya bisa menghubungi IIA Indonesia. Setelah melakukan pembayaran biaya ujian, kita bisa memilih jadwal sendiri (sesuai ketersediaan jadwal di test center). Semoga membantu.

      Delete
  2. Terimakasih Ibu Nurimroatun atas pengalaman yang telah dibagikan..,artikel yang ibu tulis sangat bermanfaat khusus nya untuk diri saya pribadi dan semoga manfaat yang saya rasakan bisa dirasakan juga oleh banyak orang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kembali. Senang dapat membantu melalui tulisan ini. Semoga bermanfaat nggih :)

      Delete
  3. Mbak Nur Imroatun, boleh nanya durasi belajarnya berapa lama sampai ujian setiap part? Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hello. Saya persiapan untuk setiap part sekitar 2 s.d. 3 bulan disambi kerja. Sekitar 2 atau 3 hari menjelang ujian biasanya saya cuti untuk belajar secara intensif. Itu berdasar pengalaman saya dan tentunya durasi persiapan setiap orang akan berbeda-beda.

      Semoga membantu.

      Delete
  4. Hai kak, saya bener2 baru di dunia internal audit dan awam untuk dia cia, maaf jika pertanyaan saya menggelitik dan sederhana
    1. Berapa total biaya yang sudah dihabiskan untuk tes nya saja?
    2. Sebelum tes, apakah wajib mengikuti kursus?
    3. Berapa total dana yang sudah dihabiskan?
    Terima kasih, im waiting your response 🙂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo. Terima kasih ya sudah berkunjung. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaanya ya:

      1. Total biaya yang dihabiskan: biaya membership + biaya pendaftaran program + biaya ujian per part = Rp 850.000 + USD 115 + USD 280 + USD 230 + USD 230 = 850.000 Rupiah + USD 855. (biaya dapat berubah sewaktu-waktu. Silakan cek iia-indonesia.org untuk mendapat informasi terbaru) (disclaimer: saya tidak membayar biaya-biaya tersebut sebab dibiayai oleh kantor kecuali saat saya mengulang ujian part 2. Hehe)
      2. Sependek pengetahuan saya tidak wajib mengikuti kursus. Yang diwajibkan adalah memenuhi eligibility requirements berupa telah menyelesaikan pendidikan setidaknya strata 1 atau memiliki pengalaman audit internal sekurangnya 5 tahun serta menyerahkan surat pernyataan (character reference) dari atasan.
      3. Total dana yang dihabiskan sama dengan jawaban no 1. Atau yang dimaksud ditambah biaya training?

      Semoga membantu.

      Delete