-->

Hello, this is me!

Nur Imroatun Sholihat

Your friend in learning IT audit Digital transformation advocate a-pat-on-your-shoulder storyteller

About me

Hello

I'mNur Imroatun Sholihat

IT Auditor and Storyteller

So I heard you are curious about IT and/or auditing. I'm your go-to buddy in this exciting journey. My typical professional life consists of performing (and studying!) IT audit and managing the award-winning magazine, Auditoria. Armed with a Master's in Digital Transformation from UNSW Sydney, I'm currently wearing multiple hats—ambassador at IIA Indonesia's Young Leader Community, mentor at ISACA Global, Head of Public Relations at MoF-Cybersecurity Community, and trainer at IIA Indonesia. You'll also find me sharing insights on my YouTube channel, speaking at seminars, and crafting content on LinkedIn. Let's connect and dive into the world of IT and auditing together!

experience

IT Auditor

2017-present

IT governance, cybersecurity, application--my daily struggle, seriously :D

Storyteller

2005-present

Writing keeps me sane :)

Content Creator

2020-present

Creating Youtube videos and LinkedIn posts, hopefully useful

IT Officer

2011-2015

performing IT services--sometimes about people forgot to plug their cords, sometimes serious incidents :p

Blog

Sebelum Hujan

Tiba masanya periode sebelum hujan berdamai dengan getirnya tidak diinginkan. Bumi seakan tabah menyaksikan langkah tergesa-gesa sebelum hujan. Udara bersikap tenang saja mendengar keluh kesah yang berlalu lalang. Langit bersabar disesaki gumpalan pesan di pikiran manusia menjelang rinai. Kata-kata menggantung di awan hanyalah payung, secangkir teh, rumah, dan tentu saja rindu. Sementara dalam diriku bukan kaki, melainkan batin, yang tergesa-gesa. Di langit bergelayut pesan pencarian yang hampir putus asa.

 

Orang-orang hanya peduli pada hujan dan rumah--menyudutkan sebelum hujan pada sepi yang kumengerti. Aku, seperti sebelum hujan, mengenali betul rasanya tidak diinginkan. Jiwa ini, sama seperti sebelum hujan, memahami riuh yang mengabaikan kami. Maka kami duduk bersisihan menikmati hening yang dikurung agar tidak gaduh mengaduh.

 

Meski demikian, sebelum hujan dan aku tak yakin apakah kami baik-baik saja dipeluk sunyi. 

 

Pada aroma hujan yang bersiap mendekap bumi aku bertanya, seperti inikah perasaan rindu1? Aku telah melewati puluhan ribu hari sibuk mempertanyakan datangnya perjumpaan yang memporandakan raga dalam duga. Jika belum akan dipertemukan, mengapa aku harus memikul perasaan semacam itu? Jika takdir persuaan masih jauh dari harap, tidak bolehkah nanti saja kutanggung beban rasa sebesar ini? 

 

Maka sebelum hujan aku berdoa agar seseorang melintas begitu saja. Saat hujan nanti, aku ingin mengenali wajah yang bersembunyi atas nama rindu. Namun, sejauh mana pun aku bertanya, dia tak kunjung menjelma di hadapku. Hujan telah mempertemukan bumi dan langit sore ini. Sejauh apa dia saat ini untuk bertemu denganku? Apakah ia tidak berdiri di bawah hujan yang sama denganku? 


Kenyataan bahwa aku tidak mengetahui apa-apa tentang perkara ini sungguh mengoyak batin.

 

Aku pulang bersama senyap yang telah nyenyak tertidur di tas punggung. Lengang adalah satu-satunya yang tersisa membersamaiku. Jika aku berkawan baik dengan sunyi, lalu berapa lama lagi topeng bahagia ini bisa kuperankan dengan baik?

 

Sejujurnya, telah sejak lama aku tak ingin menyeberangi hujan seorang diri.

----------------------------------------------

1 Terinspirasi dari puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono bahwa hujan begitu tabah merahasiakan rindunya kepada bumi.

"Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni

dirahasiakan rintik rindunya kepada pohon berbunga itu"

---------

image source: Muhammad Rifki Adiyanto via Pexels

Videos

Jakarta, Indonesia

SEND ME A MESSAGE