1 Sep 2018

THE QUESTIONS TO JAKARTA


SPECIAL CHAPTER: BIMA’S JOURNEY
source: pixabay.com

Aku baru saja selesai mengoreksi hasil UTS ketika jam dinding menunjukkan hampir pukul 10 malam. Kututup laptop yang sudah menyala sejak pagi ini sebelum meraih tas punggungku. Langkahku menyusuri lorong FISIP terhenti melihat seseorang masih mengemasi barang-barang yang akan dibawa untuk bakti sosial besok. Di mana Faqih? Kenapa dia membiarkan seorang perempuan sendirian di sekre HIMA semalam ini? Aku berniat mengetuk pintu dan menyuruhnya pulang tetapi kuurungkan niat itu sebab melihatnya tersenyum melakukan pekerjaan itu.

23 Aug 2018

THE QUESTIONS TO JAKARTA


SPECIAL CHAPTER: ARGA’S DIARY


“Arga, aku Dara, kelas IPA 1. Kita sama-sama keterima di FISIP Dharma Bangsa. Nanti pas berangkat ke Jakarta, boleh bareng ya.”

Aku mengalihkan pandanganku dari buku yang sedang kuselami halaman-halamannya. Seorang gadis yang berasal dari kelas sebelah menyapaku lirih di perpustakaan sekolah. Ini pertama kalinya seorang perempuan tidak terdengar kaku ketika berbicara pertama kali denganku. Kualihkan kembali pandanganku ke buku sembari mengangguk. Berbincang dengan berbatas buku di kemudian hari menjadi kebiasaan di antara aku dan Dara. Dia akan bercerita tentang banyak hal dan aku mendengarkannya sembari membaca buku. Bertahun-tahun, dia seolah menerima kenyataan bahwa buku adalah hal yang tidak akan aku tinggalkan meskipun dia sedang berada di hadapanku. Awalnya aku melakukan kebiasaan ini untuk mengurangi kecanggungan karena tidak terbiasa berinteraksi panjang lebar dengan seorang perempuan. Pada akhirnya, kebiasaan ini menjadi sesuatu yang membantuku merahasiakan perasaan yang tembus pandang bagi siapapun yang memperhatikanku lekat. Dara tidak pernah menyadari ekspresi semacam apa yang muncul di wajahku setiap kali dia datang dan bercerita. Dahulu aku mensyukurinya tetapi siapa sangka di kemudian hari aku menyesalinya.

21 Aug 2018

THE QUESTIONS TO JAKARTA


PART 8: OUT OF THE KINDNESS OF YOUR HEART
source: pixabay.com
“Dara, aku nggak bermaksud menggarami luka tapi ini kan udah setahun. Apa kamu nggak berniat deket sama siapa gitu? Perlu aku kenalin ke seseorang yang pinter dan sopan?” Perempuan yang mengajak Dara makan siang bersama bertanya.

Dara menggeleng. Di usianya yang sekarang, semua orang seakan-akan hanya gemar membicarakan satu topik saja: pernikahan. Sayangnya topik ini sungguh ingin dihindarinya.

“Nanti juga ketemu sendiri kok, Rin.” Suara Dara terdengar pasrah.

16 Aug 2018

THE QUESTIONS TO JAKARTA

PART 7: CALL IT A DAY

source: pixabay.com

Di tengah perpustakan yang cukup padat siang itu, Bima melangkah menuju meja di sudut ruangan baca. Matanya menangkap sosok yang dicarinya sedang membalik halaman buku seolah tidak terusik dengan derap langkah kaki yang mendekat.

“Tadi Dara di sini cuma sekarang dia lagi ngurusin legalisasi ijazahnya.” Arga menutup buku yang dibacanya begitu menyadari seseorang yang setengah jam yang lalu memintanya tetap berada di perpustakaan kini berdiri di sampingnya.

“She Walks in Beauty...” Bima mengucapkan judul puisi favorit Arga tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Udara di sekeliling mendadak menjadi pekat sampai-sampai Arga merasa sulit bernafas, “...bukan untuk seorang perempuan yang kamu nggak punya perasaan apa-apa kepadanya.” Bima meletakkan DASA Post di tangannya ke meja bersama ponsel yang layarnya menampilkan laman puisi karya Lord Byron itu. “Puisi ini soal Dara kan?”
Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .