11 Sep 2019

BEHIND THE SCENE MUSE

source: pixabay.com

Some writings effortlessly occupied special places in my heart and “Muse” is one of them.

To tell you the truth, the whole story was inspired by a close friend’s story. I made the storyline a bit altered from the actual one since I didn’t want people to be able to guess who that famous writer is (and I bet you'll be surprised if I reveal his identity. Hoho). But the plot of “being loved by your idol but couldn’t accept his feeling since you know there’s someone who deserves him better” is authentic. I recognized my friend’s feeling and came up with the idea of serving it as fictional writing. She agreed and even said that she would deliver the story to the “Ikra” in real life. Guess what? The person behind the persona had read the story :)

8 Sep 2019

KAWI

PART 2: JARAK KITA HARI ITU
source: tumblr.com
(Raya’s POV)

“Putri,” bisiknya. Meski dia berusaha berbicara selirih mungkin—seolah-olah rahasia ini hanya boleh didengar olehku saja, otakku seperti mendengar dentuman yang meledak tepat di samping telingaku. Aku menoleh dan mendapatinya tersenyum sangat lembut. Detak jantungku seperti dibekukan oleh kejadian tak terduga ini. Aku tidak menduga akan ada hari di mana Ardhan tidak melulu berbicara tentang mimpinya menjadi penulis yang lebih hebat dari kakaknya, Arga. Aku tidak mempersiapkan diri untuk hari di mana Ardhana Kawi mengambil jeda dari ambisinya dan memberi ruang penting di pikirannya bagi seseorang. Aku tahu hari semacam ini pasti akan datang tetapi tidak membayangkan hari itu adalah hari yang sedang kujalani saat ini. Tidak. Seharusnya hari hatiku retak tidak datang setergesa-gesa ini.

24 Aug 2019

KAWI

PART 1: JARAK KITA HARI INI
source: tumblr.com
(2015)
(Raya's POV)

Tak seperti biasanya, aku tidak merasa bersemangat mengikuti kelas Kajian Puisi yang akan dimulai sebentar lagi. Tidak ada yang aneh dari hari ini kecuali kenyataan bahwa aku melihat poster acara bedah buku terbaru Ardhana Kawi ketika berjalan ke kelas ini. Teman-teman kelasku bergegas mengetik pesan untuk mendaftarkan diri mengikuti acara tersebut tetapi aku tidak sedikit pun tergerak mengikuti mereka.

“Memangnya kamu nggak mau dateng, Ya?” Dita yang duduk di belakangku menepuk bahuku. Dia menunjukkan layar ponselnya yang sedang menampilkan poster acara yang sedang dibicarakannya.

19 Jul 2019

MUSE

PART 5: SEMESTA

“Mas Ikra, saya besok ke Jakarta,” bodohnya aku mengangkat panggilan tanpa membaca terlebih dahulu nama yang muncul di layar. Meski telah tujuh bulan berlalu sejak memintanya menjadi sahabatku, aku tidak siap disapa olehnya sebuah malam di mana aku sedang menulis untuknya.

“Kenapa kamu mengabari saya?” aku menyangga ponselku dengan bahu kiri agar aku bisa melanjukan mengetik. Aku mendengar Kyra menjelaskan bahwa sebagai seorang sahabat, aku berhak tahu dia benar-benar akan datang ke acara pernikahanku lusa. Aku membantah alasannya mengabariku karena aku berhak tahu. Kita semua tahu, kita selalu lebih berhak menentukan apakah kita ingin atau tidak ingin mengabari seseorang sekalipun orang tersebut berhak tahu. Dia pun melempar pertanyaan—sesuatu yang selalu dia lakukan saat sebenarnya aku berniat bersembunyi dari kenyataan bernama perasaan.
Copyright © 2013 imzpression.com . WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates . Proudly Powered by Blogger .